Sekolah Bukan Hanya Formalitas

Di era ini muncul budaya yang terlalu “mengagungkan sekolah”. Masyarakat seakan menganggap bahwa lembaga pendidikan ini sebagai hal paling potensial untuk mengubah status sosial. Ada banyak hal lain sebenarnya yang berpengaruh. Namun argumen ini diperkuat dengan semakin berkembangnya pengakuan di luar kembaga sekolah.

Pola pemikiran tersebut sangat berbahaya dan menjadikan masalah formalitas sebagai kekuatan baru. Hal ini merupakan bentuk penipuan. Masyarakat menjadi lemah karenanya.

Masalah kualitas menjadi persoalan yang tidak lagi dihiraukan. Pemikiran berorientasi materi berkembang cepat. Pada akhirnya uang dapat menguasai segalanya. Nilai dapat dibeli. Apapun diperdagangkan. Inilah salah satu hal yang menjadi karakter masyarakat materialistis.

Kiranya sekalipun berada dalam lingkungan yang sangat sulit dihindari ini, kita tidak terlalu mudah terpengaruh. Artinya bahwa terdapat konsistensi yang menjadikan diri bertahan di garis idealisme.

Sekolah nyatanya memang telah banyak menghasilkan pribadi sukses. Sekolah mengantarkan mereka yang berasal dari keluarga biasa menjadi orang terkenal bahkan berkuasa sekalipun.

Disanalah mereka bebas berkreasi dengan keyakinan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan sama. Tidak ada perbedaan antara satu dengan lainnya. Bentuk perlakuan terhadap potensi dasar tersebut yang berlainan.

Kalaupun dalam hitungan terjadi perbedaan, hal ini tidak cukup signifikan ketika dilakukan perhitungan dengan perbandingan terhadap pengaruh lingkungan yang membentuk kepribadian anak. Sekolah menjadi hal penting sebagai media pembentuk kemapanan.

Seorang siswi yang sangat pintar dan selalu menjadi juara umum menikah muda lebih banyak dipengaruhi oleh lingkungan (selain memang sudah takdir). Lingkungan dimana ia berada tidak mendukung optimalisasi potensi diri. Terdapat keterbatasan untuk bebas dalam mengaplikasikan apapun yang dimiliki. Tidak sedikit orang seperti ini.

Seorang teman saya yang sekarang (maaf) hanya menjadi seorang prajurit tingkat paling bawah militer memiliki kecerdasan luar biasa. Lagi – lagi masalah lingkungan. Ia tidak mempunyai pesaing tangguh yang dapat membuat semangatnya terus berkembang. Ia bosan menikmati kekaguman banyak orang dengan berbagai prestasi yang diraih.

Ternyata kemenangan atau posisi puncak tidak selamanya menjadikan diri mampu bertahan dalam kejayaan. Ada kekuatan psikologis yang harus dijadikan bahan pertimbangan. Hal ini dapat dikreasikan sebagai salah satu landasan metode pendidikan.

Begitu juga sebaliknya, ada banyak orang yang tidak terlalu menonjol dalam kemampuan dasarnya tetapi karena kuatnya persepsi yang menumbuhkan semangat bahwa ia adalah anak yang pintar atau orang yang harus pintar, menjadikan dirinya meraih kesuksesan gemilang.

Hal ini menunjukkan bahwa bukan hal mustahil keberhasilan jatuh kepada mereka dengan kemampuan dasar biasa. Yang terpenting adalah integritas untuk melakukan sesuatu.

Seorang dosen UGM pernah bercerita kepada mahasiswanya bahwa ada seorang temannya yang tidak cukup cerdas ketika kuliah. Untuk tamat saja membutuhkan waktu cukup lama. Ia seringkali meminta bantuan teman – temannya untuk mengajarinya ketika menyelesaikan tugas – tugas kuliah.

Namun ia seorang yang sangat rajin. Akhirnya ketekunan dalam menyikapi kekurangannya tersebut berhasil. Kini ia telah menjadi seorang yang sangat terkenal dengan posisi jauh di atas seorang dosen.

Hal ini bukan sekedar urusan keberuntungan. Kesempatan sangat terpengaruh oleh lingkungan. Bayangkan ketika ia tinggal bersama orang – orang yang tidak cukup cerdas. Nasib juga berbicara.

Sekolah dengan orientasi yang lebih kepada lapangan kerja membentuk anak didik siapa pakai. Mereka pada akhirnya setelah sekian lama menghabiskan waktu, biaya, energi dan segala sumber daya lainnya kemudian “dipaksa” menggantikan posisi robot. Sebuah gejala umum yang dinikmati.

Adakah sekolah berhasil menjadi media (lingkungan) yang mampu mengoptimalkan kemampuan anak didik?? Lihatlah realita!!! (Yogyakarta, Desember 2004)

Leave a Response