Sekularisme Yang Menggejala

Beberapa tahun yang lalu, saya pernah bertemu dengan seorang jerman dan melakukan diskusi singkat. Waktu itu, mungkin dengan penampilan saya, ia langsung bertanya,

“apakah anda seorang muslim?”

Saya jawab, “iya, saya seorang muslim”.

Dan pada waktu itulah ia mengatakan “saya ingin menyampaikan kepada anda kalau orang islam itu terjebak dengan ilusi dan dikuasai oleh para ulama mereka untuk suatu keyakinan yang tidak rasional”.

Menurutnya , orang islam ketika berbuat seringkali termotivasi agar masuk ke dalam sorga dan dijauhkan dari neraka. Para ulama menyebarkan paham ini di tengah masyarakat agar mereka mempunyai pengaruh dan pengikut.

Padahal menurutnya, sorga dan neraka yang diyakini orang islam itu tidak ada. Bahkan ia pada waktu itu meminta saya untuk menunjukkan bukti jika neraka dan sorga itu ada. Tapi saya hanya bilang bahwa ini adalah urusan kepercayaan kami, kita akan betul-betul yakin jika nanti sudah menemuinya.

Sang bule pun langsung bicara banyak dan terkesan menggurui saya. Menurut dia, yang benar adalah bahwa sorga dan neraka itu adanya dalam hidup kita sekarang. Tidak ada kehidupan setelah kematian. Bongkarlah kuburan, maka yang kita temukan adalah tulang belulang semata.

Adapun sorga adalah sesuatu yang engkau rasakan sebagai sebuah kesenangan. Engkau bisa membeli rumah, mobil, engkau naik kelas, dan mendapatkan hal-hal lain yang engkau inginkan, maka itulah sorga.

Sementara neraka adalah sesuatu yang tidak engkau senangi keberadaannya. Engkau kehilangan sesuatu yang engkau cintai, misalnya kebakaran, engkau jatuh sakit, kecelakaan, dst, hal itulah yang disebut neraka.

Tidak sekedar itu saja, sang bule pun mengatakan bahwa bahkan (mohon maaf), dalam hal pernikahan pun umat islam mengalami hal yang salah kaprah. Soalnya Islam melarang pernikahan sesame jenis. Padahal pernikahan itu adalah menurut dia hakekatnya adalah kebutuhan seks, yang sama saja engkau rasakan ketika berhubungan dengan lawan jenis atau sesame jenis.

Karena saya tahu bahwa pikirannya sudah sedemikian berbeda dengan aturan islam yang saya yakini dan juga terbukti secara ilmiah, saya tidak mau berdebat dengan orang tersebut. Saya memilih untuk meninggalkannya. Tetapi sebelum saya pergi, ia masih sempat berkata,

“Anda harus tahu, bahwa agama Kristen sekali pun yang berkembang di Eropa (terutama di jerman) tidak lagi seperti yang engkau bayangkan. Kristen bukan lagi agama yang terjebak dengan hal-hal yang bersifat irrasional. Meskipun di dokument kami menyebutkan bahwa kami penganut Kristen, tapi kami tidak lagi ke gereja”.

Dengan bangga orang tadi ingin menunjukkan kepada saya bahwa ia hakikatnya adalah seorang atheis. Ia tidak percaya tuhan, karena tuhannya adalah nafsu dan kehendaknya sendiri.

Dari pengalaman itu, saya merenung bahwa jika benar yang ia katakan bahwa kondisi tersebut sudah berkembang sedemikian parahnya di Eropa, maka tidak menutup kemungkinan pengaruhnya akan masuk ke Indonesia, Negara mayoritas muslim di dunia. Dan nyatanya kita sudah merasakan hal tersebut.

Ada banyak organisasi dan gerakan yang mengatasnamakan HAM dan kebebasan, “menyalahkan” aturan yang diwahyukan dalam agama, baik secara samar-samar maupun terang-terangan.

Secara samar-samar misalnya dengan mengatakan bahwa wahyu adalah benar, tetapi penafsiran yang dipahami umat islam selama ini yang salah. Mereka pun mulai mengotak atik makna wahyu dengan konteks yang mereka kehendaki.

Ada juga yang mengatakan bahwa memang wahyu itu perlu dipertanyakan. Dimungkinkan terjadi perubahan wahyu oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab.

Tentu saja yang mereka maksud adalah para sahabat nabi seperti halnya Ustman bin Affan radiyallahu anhu yang mereka sebut telah membukukan alquran yang berbeda dengan wahyu yang diturunkan oleh Allah.

Pada akhirnya sebagian secara terang-terangan mengatakan bahwa sebagian besar dari ayat-ayat Alquran hanya diperuntukkan untuk masyarakat arab. Islam di arab harus dibuat berbeda dengan islam di Indonesia, karena masing-masing wilayah mempunyai kearifan yang berbeda.

Yang membuat miris, ternyata mereka adalah dari kalangan umat islam yang selama ini notabene dianggap sebagai kalangan terdidik.

Adapun masyarakat, mereka pun tidak bisa berbuat banyak karena kebodohan mereka sendiri tentang ajaran islam. Bahkan tidak sedikit masyarakat yang tidak lagi memperhatikan kewajiban mereka dalam beragama seperti sholat lima waktu, zakat, puasa, dan ibadah-ibadah lainnya.

Berkaitan dengan kondisi ini, maka perlu dilakukan gerakan secara massif oleh para ulama dan mereka yang memahami islam dari sumber alquran dan sunnah dengan pemahaman para sahabat, tabi’in dan tabi’at untuk mengembalikan islam sebagaimana aslinya.

Islam, adalah agama yang tidak hanya mengajarkan kita untuk urusan akhirat, tetapi juga menuntun manusia untuk menjalani kehidupan di dunia ini dengan sebaik mungkin. Islam bukanlah agama sekuler yang memisahkan dunia dan akhirat karena keduanya dalam pandangan islam mempunyai keterkaitan yang erat.##

New Delhi, 26 November 2010

Akhukum Fillah, Gonda Yumitro

Leave a Response