Semangat Perjuangan

Masih adakah perjuangan dizaman ini? Demikian pertanyaan yang sempat terlontar dalam pikiran saya menyimak cerita seorang pensiunan perwira TNI, tetanggaku. Perjuangan yang merelakan harta, jiwa dan raga untuk sebuah nilai. Kepentingan bersama, beragama, dan berbangsa.

Bapak dengan usia 75 tahun, tetapi dengan badan yang masih cukup segar itu bercerita. Dengan semangat ia menggambarkan keadaan pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sangat sulit. Apa saja dikorbankan.

Semua rakyat bersatu mengupayakan kemerdekaan. Mereka dapat merasakan bagaimana pedih dan tersiksa dibawah kungkungan penjajah.

Berbeda dengan sekarang. Meskipun sama – sama “terjajah” tetapi orang – orang tidak cepat tanggap karena pikiran dan sistem yang dikuasai. Orang – orang banyak salah paham sehingga memanfaatkan kesempatan untuk menikmati.

Tidak ada yang salah. Hanya saja ketika kepentingan pribadi yang mendominasi nilai – nilai perjuangan akan tenggelam.

Buktinya sangat sulit mencari orang yang sungguh – sungguh berjuang untuk kepentingan bersama. Mungkin karena berbeda masa.

Menjadi tentara misalnya kalau dulu berasal dari kalangan rakyat bawah, tetapi sekarang tidak. Masuk tentara justru tidak sedikit dengan membayar sejumlah uang.

Anak – anak muda juga demikian. Pada masa kemerdekaan remaja belasan tahun sudah dapat melakukan hal berarti demi bangsa.

Demikian tetangga saya tadi bercerita disamping sejarah lainnya. Ia ketika berumur 14 tahun pernah melarikan 60 pucuk senjata Jepang untuk diberikan kepada TKR. Remaja sekarang, untuk urusan pribadi saja belum dapat mandiri.

Cukup banyak cerita lain yang beliau sampaikan. Semangat perjuangan menjadi masalah penting yang mengusik perhatian saya. Adakah memang perjuangan tidak lagi diperlukan. Atau memang bentuk perjuangan sekarang yang berbeda.

Ketika seorang warga negara dengan kerja keras mendapatkan pekerjaan, maka itu adalah perjuangan. Tetapi ketika ia melewati batas dengan mengambil hak orang lain, berarti menyalahi aturan.

Nyatanya korupsi sangat banyak terjadi di negeri ini. Orang – orang juga sangat jarang berpikir tentang apa dan bagaimana negara. Yang paling penting adalah ia dapat hidup layak.

Dalam beragama juga demikian. Teramat banyak larangan dalam beragama seperti pergaulan bebas, mabuk – mabukan dan berbagai kemaksiatan lainnya mereka lakoni. Bahkan nama agama dijatuhkan dengan anggapan dan tindakan yang meletakkan agama seakan urusan ghaib semata.

Sampai hantu menjadi objek yang perlu ditangkap. Kubur digambarkan dalam bentuk visual dalam acara – acara tv. Dan berbagai kerusakan moral serta kesia – siaan lainnya.

Mereka yang sedemikian hancur masih sempat berteriak mengatasnamakan bangsa dan agama. Tindakan memalukan tidak membuat hati mereka kecut.

Entahlah. Mungkin ini wajah para “pejuang” modern. Dengan semangat kuat tanpa ilmu. Atau ketiadaan ilmu mereka justru karena rendahnya semangat perjuangan.

Sudah saatnya perubahan dilakukan. Perjuangan tidak boleh dijadikan alasan. Kemurnian menumbuhkan penerimaan jiwa dan simpati. Tidak perlu berteriak bahwa kita adalah pejuang. Biar sejarah yang mencatat. Ikhlaskan hati!!.

Bandung, 11 Juli 2005

Akhukum Fillah, Gonda Yumitro

Leave a Response