Setiap Penyakit Ada Obatnya

Dalam hidup ini, kondisi kita tidak selalu sehat. Terkadang ada saat dimana kita mengalami sakit, baik secara fisik, mental, atau pun pikiran. Sebagai seorang yang beriman, maka perlu bagi kita meyakini bahwa segala penyakit ini ada obatnya.

Dari Abi Hurairah radiyallahu ‘ahnu, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ما أنزل الله داءً إلا أنزل له شفاءً

Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit kecuali Allah juga telah menurunkan padanya penawar (HR. Bukhari)

Dalam riwayat yang lain, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam meyakinkan bahwa yang tidak ada obatnya hanyalah kematian karena kematian merupakan perkara yang sudah ditentukan oleh Allah ta’ala dan tidak bisa dimajukan atau dimundurkan sedetik pun.

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لم يُنزِل داءً إلا أنزل معه شفاءً،إلا الموت

Tidaklah diturunkan suatu penyakit kecuali telah diturunkan bersamanya penawarnya kecuali kematian (HR. Ahmad)

Oleh karena itu, jika ada di antara kita sedang ditimpakan suatu penyakit, hendaknya berusaha untuk mengobati penyakitnya tadi. Tentu maksudnya adalah dengan cara yang syar’i, karena Allah ta’ala tidak memberikan penawar bagi suatu penyakit dengan cara yang haram.

Para ulama mengatakan hadits ini juga menunjukkan bahwa upaya medis untuk mengobati suatu penyakit tidak bertentangan dengan tawakkal atas kesabaran atas musibah. Justru bentuk ketawakalan kita harus ditunjukkan dengan terlebih dahulu melakukan usaha maksimal.

Hanya dalam islam diajarkan bahwa kita tidak semata-mata menyakini usaha kita sebagai penyebab bagi suatu kejadian. Usaha tadi tidak lebih dari kewajiban kita untuk semakin taat kepada Allah ta’ala. Adapun hasilnya merupakan prerogative Allah ta’ala.

Seorang muslim mengetahui kapasitas dirinya. Ia yakin bahwa jika pun melakukan usaha maka sebenarnya yang kita lakukan hanya sedikit saja dari rahasia ilmu yang Allah ta’ala karusniakan kepada kita.

Jalur medis dalam mengobati suatu penyakit fisik misalnya merupakan upaya yang perlu ditempuh. Namun doa kepada Allah ta’ala atas kesembuhan tadi tidak kalah pentingnya. Sesungguhnya teknologi yang modern sekali pun dalam bidang kedokteran sekarang, tidak bisa menjamin kesempuhan dari penyakit kita.

Allah ta’ala berfirman,

وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلاً

Tidaklah diberikan dari ilmu kepada kalian kecuali hanya sedikit saja (Q.S. Al Isra’: 85)

Setelah usaha maksimal dan berdoa kepada Allah ta’ala, maka seorang mukmin menyerahkan hasilnya hanya kepada Allah ta’ala. Ia meyakini bahwa tidaklah ada satu kejadian pun di muka bumi ini kecuali atas kehendak Allah ta’ala. Allah ta’ala berfirman,

وَمَا تَشَاؤُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ

Dan kamu tidak akan mampu (menempuh suatu jalan) kecuali atas kehendak Allah (Q.S. Al Insan: 30)

Kondisi yang sama juga perlu dilakukan dalam mengobati penyakit yang lainnya, seperti kebodohan. Diriwayatkan oleh Abu Daud dalam sunanya dari hadits Jabir bin Abdillah, beliau menceritakan,

خرجنا في سفر فأصاب رجلاً منا حجر فشجه في رأسه، ثم احتلم، فسأل أصحابه فقال: هل تجدون لي رخصة في التيمم؟ فقالوا: ما نجد لك رخصة وأنت تقدر على الماء، فاغتسل فمات، فلما قدمنا على النبي صلى الله عليه وسلم أخبر بذلك فقال: قتلوه! قتلهم الله، ألا سألوا إذ لم يعلموا؛ فإنما شفاء العي السؤال؟ إنما كان يكفيه أن يتيمم ويعصر أو يعصب -شك موسى – على جرحه خرقة، ثم يمسح عليها

Kami pernah bepergian, kemudian salah seorang dari kami terkena batu sehingga kepalanya terluka. Kemudian ia bermimpi basah dan bertanya kepada sahabatnya, “apakah padaku ada keringanan untuk bertayamum?”. Maka sahabatnya mengatakan, “kami tidak menemukan keringanan untukmu sedang kamu mampu menggunakan air”, sehingga ia pun mandi, kemudian mati. Maka ketika kembali dan menemui Rasullah kami pun menceritakan hal tersebut, dan beliau bersabda, “Mereka telah membunuhnya dan semoga Allah membunuh mereka. Mengapa mereka tidak bertanya jika tidak mengetahui? Karena obat tadi tidak tahu adalah bertanya. Padahal cukup baginya hanya dengan bertayamum dan menutup lukanya dengan kain kemudian mengusapnya (HR. Abu Daud)

Kita berdoa kepada Allah ta’ala, semoga Allah ta’ala menyembuhkan kita dari semua penyakit, baik berupa penyakit fisik, kebodohan, penyakit hati dan lain sebagainya. Aamiin.

Malang, 9 Maret 2016

Akhukum Fillah, Gonda Yumitro

 

Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Meraih Sarjana dari Ilmu Hubungan Internasional UGM dan M.A Political Science, Jamia Millia Islamia dan M.A International Relations, Annamalai University, India. Sedang menempuh PhD Political Science di Internasional Islamic University of Malaysia. Belajar agama dari beberapa ustadz ketika sedang studi di Yogyakarta, Malang dan India. Sekarang berprofesi sebagai dosen di prodi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang

Leave a Response