Sikap Pertengahan Dalam Beragama

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Wassholatu wassalamu ‘ala nabiyina Muhammad, wa’ala alihi wa’ashobihi ajma’in.

Kami pernah mendengar seseorang mengatakan, “dulu sebelum belajar Islam, saya merasa nyaman karena hidup ini mengalir begitu saja. Tetapi setelah semakin lama belajar, saya menjadi semakin bingung karena banyaknya perbedaan yang muncul. Justru, tidak sedikit yang menyalahkan pendapat mereka satu sama lain”.

Demikianlah keadaan yang akan dialami oleh sebagian kaum muslimin ketika mereka tidak memahami agama ini dengan cara yang benar. Apalagi beragama justru dengan sikap berlebihan tanpa didasari atas ilmu dari dalil yang kuat, yaitu Al-quran dan sunnah.

InsyaAllah mereka yang paham islam dengan baik, tidak sedikit pun akan merasakan keberatan dan kesulitan atasnya. Hidup mereka akan berada pada sikap pertengahan yang sesuai dengan fitrahnya sebagai manusia.

Maka pada pagi hari ini, kami akan menyadur fatwa fatwa Syaikh Muhammad Al Utsaimin ketika beliau pernah ditanya, apa makna pertengahan dalam beragama wahai Syaikh?

Maka beliau menjawab,

Segala puji bagi Allah. Pertengahan dalam beragama maknanya tidak ghulu (berlebihan) dalam melaksanakan apa yang dibolehkan oleh Allah, tetapi tidak mengurangi apa yang telah Allah tentukan.

Kisah rasulullah sungguh menunjukkan bagaimana beliau bersikap adil dan pertengahan dalam menjalan agama ini.

Pernah suat ketika 3 orang sahabat berkata satu sama lain,

Saya sholat dan tidak tidur, yang lain berkata, saya puasa dan tidak berbuka, yang ketika berujar, saya tidak akan menikah,

Maka hal ini disampaikan kepada nabi salallahu ‘alaihi wassalam, dan beliau berkata,

ما بال أقوام يقولون كذا وكذا أنا أصوم وأفطر , وأنام وأتزوج النساء , فمن رغب عن سنتي فليس مني

Apakah benar anda berkata begini dan begini, sesungguhnya aku puasa dan aku berbuka, saya tidur dan menikah, maka siapa yang benci dengan sunnahku tidaklah termasuk dariku.

Demikianlah keadaan mereka yang berlebihan dalam agama, mereka menyelisihi sunnah nabi. Padahal nabi berpuasa tetapi berbuka, juga sholat tetapi tidur, dan menikah.

Adapun mereka yang mengatakan saya tidak punya hajat untuk melakukan amalan sunnah, cukup dengan yang wajib saja, atau mengurangi dari sesuatu yang wajib maka hal ini termasuk dari perbuatan mangkir.

Padahal khulafaurrashidin dan para sabahat, mereka berusaha untuk senantiasa mengikuti apa yang telah dituntunkan oleh rasululullah.

Contoh yang lainnya adalah ketika ada 3 orang yang bertemu dengan seorang laki-laki fasik. Kemudian laki-laki pertama berkata, saya tidak akan memberikan salam dengan orang fasik ini, saya tidak suka dan akan menjauh darinya, tidak pula akan bicara”.

Orang kedua berkata, saya akan berjalan dengan orang fasik ini, dan memberikan salam atasnya, tersenyum kepadanya, akan kupanggil dia, dan kujawab panggilannya, dan tidaklah bagiku dirinya kecuali seperti orang yang sholeh.

Orang ketiga berkata, orang fasik ini, saya benci kefasikannya dan saya cinta dengan keimanannya. Tidaklah aku akan menghajr (menyatakan ketidaksukaan dan penentangan) kecuali untuk suatu kebaikan. Jika tidak ada kebaikan yang bisa didapatkan dari hajr tadi, malah memunculkan kemudhoratan, maka saya tidak akan menghajrnya.

Maka jelas, orang pertama adalah orang yang terlalu cuwek (tidak peduli), orang kedua terlalu meringankan (syariat), sementara orang ketiga, ialah yang ada di pertengahan.

Hal ini yang disebut sebagai akhlak. Manusia yang berada diantara diantara sikap cuwek dan terlalu melalaikan syariat, maka ia disebut bersifat pertengahan.

Contoh ketiga, yaitu seorang laki-laki yang mengungkung perempuan agar jauh dari kejelekan, dan sibuk dengan kebaikan, dan keinginan tersebut begitu menggebu.

Lelaki yang lainnya, ia bersikap kasar, sombong dan tinggi hati terhadap wanita, dan tidaklah menjadikan wanita lebih dari pembantunya saja.

Dan laki-laki ketiga berada dalam sikap pertengahan. Ia memperlakukan wanita sebagaimana perintah Allah dan tuntunan rasul.

وَلَهُنَّ مثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ

Dan pergaulilah mereka dengan cara yang baik.(Q.S.Al-baqaroh:228)

لا يفرك مؤمن مؤمنة إن كان كره منها خلقا رضي منها خلقا آخر

Janganlah seorang mukmin membenci mukminah, (karena) jika ia tidak menyukai suatu perbuatan, maka ia (mukminah tadi) mempunyai akhlak lain yang ia ridho.

Semoga kita semua termasuk orang yang pertengahan dan berlaku adil dalam agama ini.

Delhi, 6 April 2011

Disadur dari Majmu’fatawa.

Leave a Response