Syarat Diterimanya Taubat

Sebagai manusia, seringkali kita melakukan salah dan dosa. Akan tetapi, ada orang yang justru berbangga dengan kesalahan dan dosa yang ia lakukan, dan ada juga mereka yang menjadi begitu dekat kepada Allah karena kesadarannya bahwa kesalahan, dosa dan kemaksiatan yang telah ia kerjakan hanya menambah persoalan hidup, menghilangkan ketenangan dan membuat dirinya semakin kehilangan makna kehidupan.

Pilihan seseorang untuk meniti jalan kebenaran setelah melakukan kesalahan atau semakin menenggelamkan dirinya kepada kemaksiatan dipengaruhi oleh banyak faktor. Salah satunya adalah persoalan ilmu. Mereka yang mengetahui bahwa Allah maha pengampun dan sangat sayang terhadap seorang hamba yang bertaubat dari salah dan dosanya, mempunyai peluang lebih besar untuk menjalani kehidupan yang lebih baik setelah berada dalam gelapnya kemaksiatan.

Ia tahu bahwa Allah subhanahu wata’ala berfirman,

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Wahai hambaku yang telah melampui batas atas dirinya, janganlah berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sungguh Ia maha pengampun dan penyayang.(Q.S: Az-Zumar: 53)

Jangankan bagi seorang muslim, seorang yang kafir sekali pun jika ia berhenti dari kekafirannya kemudian beriman kepada Allah dan beramal sholeh, maka Allah akan mengampunkan semua dosa-dosanya di masa lalu. Hal ini sesuai dengan ayat Allah,

قُلْ لِلَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ يَنْتَهُوا يُغْفَرْ لَهُمْ مَا قَدْ سَلَفَ

Katakanlah kepada orang-orang kafir, jika mereka berhenti (dari kekafirannya), maka akan diampunkan atas apa yang mereka lakukan di masa lalu. (Q.S.Al-Anfal: 38)

Dalam syarah tulisan Syaikh Ustaimin dinyatakan bahwa taubat dari kekafiran kepada islam merupakan sebesar-besar taubat, kemudian setelah itu bertaubat dari dosa-dosa besar, setelah itu dari dosa-dosa kecil.

Dalam hadits rasulullah shollallahu a’alaihi wassalam juga disebutkan bahwa,

الإسلام يهدم ما كان قبله والتوبة تهدم ما كان قبلها

Islam menghapuskan apa yang sebelumnya, dan taubat menghapuskan dosa yang sebelumnya.

Maksudnya adalah bahwa mereka yang masuk ke dalam islam, maka dosa-dosanya sebelum masuk ke dalam islam dihapuskan oleh Allah. Demikian halnya dengan dosa-dosa seorang yang  bertaubat.

Mereka orang-orang yang bertaubat ini juga oleh Allah kemenangan yang besar. Allah subhanahu wata’ala berfirman,

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Bertaubatlah kelian kepada Allah semuanya wahai orang-orang yang beriman, agar kalian mendapatkan kemenangan. (Q.S. An Nur: 31)

Bahkan rasulullah shollahu a’laihi wassalam bersabda bahwa Allah mencintai seorang yang bertaubat melebihi seorang yang kehilangan keledai dalam perjalanan panjangnya di terik matahari kemudian ia menemukannya. Rasulullah sholallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

لله أفرح بتوبة عبده من أحدكم؛ سقط على بعيره، وقد أضله في أرض فلاة

Allah lebih gembira dengan taubat seorang hamba diantara kalian dibandingkan seorang yang jatuh dari ontanya dan kehilangan (onta tadi) di padang pasir.

Hanya saja taubat yang dimaksud adalah taubatan nasuhah, sebagaimana firman Allah ta’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحاً

Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kalian kepada Allah dengan taubat yang sesungguhnya. (Q.S At-tahrim: 8).

Taubatan nasuha ini menurut para ulama, sebagaimana disampaikan oleh Syaikh Bin Baz dan Syaikh Utsaimin mempunyai beberapa syarat, antaralain:

Pertama, menyesali kesalahan yang dilakukan di masa lalu

Sebaimana makna taubat itu sendiri yang secara bahasa berasal dari kata  تاب يتوب  yang bermakna kembali (رَجع). Kembali di sini maksudnya adalah kembali dari kemaksiatan kepada ketaatan kepada Allah.

Dan penyelesalan ini tentunya ada di hati, dan akan terbukti dengan konsistensi perbuatannya. Sementara dalam ucapan, ia memperbanyak bacaan istighfar.

Oleh karena itu, penyelesalan ini sangat erat kaitannya dengan keikhlasan hati. Seorang yang benar taubatnya maka ia meletakkan cinta kepada Allah untuk mendapatkan kehidupan akhirat yang baik. Taubatnya bukanlah karena alasan duniawi.

Kedua, Meninggalkan kemaksiatan

Termasuk didalamnya adalah usaha untuk menjauhkan dirinya dari segala hal yang memungkinkan ia melakukan kemaksiatan. Ia menjauhkan diri dari teman-teman yang jelek, lingkungan yang tidak baik, pandangan yang tidak terjaga, pikiran yang tercelah dan seterusnya.

Ketiga, ber-azzam untuk tidak melakukan kemaksiatan tersebut selamanya dan melakukan berbagai kebaikan setelahnya.

Syarat ini sangat penting karena akan menjadi titik awal bagi dirinya untuk menjalani masa depan. Seorang yang belum berbakti kepada kedua orang tua, maka dengan azzam ini mulai mencarikan upaya agar baktinya bisa diperbaiki. Seorang yang belum membayar zakat, maka ia sudah membuat strategi agar sebagian dari hartanya juga bisa dinikmati oleh orang yang berhak. Seorang yang masih terjerat dengan riba’, maka ia sudah mulai menyusun upaya agar bisa mendapatkan harta dengan cara halal. Seorang yang masih terbiasa dengan berbohong, menggunjing, bahkan memfitnah, ia sudah mulai berupaya membuat cara agar dari lisannya hanya keluar kata-kata yang baik saja dan dipenuhi dengan zikir kepada Allah.

Keempat, jika kesalahan yang dilakukan berhubungan dengan manusia, maka ia wajib untuk menyelesaikan persoalan dengan yang bersangkutan, misalnya dengan memberikan hak yang diambil dari saudaranya tadi jika itu berupa harta benda, dan tentu saja dengan meminta maaf kepadanya.

Adapun jika kesalahan kita kepada orang lain tadi berkenaan dengan menggunjingkannya, maka para ulama berbeda pendapat. Ada yang mengatakan bahwa hendaklah engkau datang kepadanya dan menyampaikan bahwa aku telah menggunjingmu, maka maafkanlah aku. Tetapi sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa tidak perlu datang kepadanya, maka cukup dengan menyampaikan kebaikan orang yang digunjing tadi kepada majelis atau orang lain tempat engkau menggunjingkannya.

InsyaAllah pendapat yang kuat adalah jika ia belum mengetahui gunjingan tadi, maka hendaklah melakukan pendapat yang kedua. Tetapi jika ia sudah mengetahui, maka perlu datang dan meminta maaf kepada yang bersangkutan dengan tetap melakukan pendapat yang kedua. Wallahu ta’ala a’lam.

Adapun jika dosa itu berhubungan dengannya dan Allah, maka hendaknya ia menjadikan taubat ini urusan dirinya dengan Allah semata. Jika pun ia melakukan kemaksiatan, maka hendaknya ia menutupinya dan memohon kepada Allah agar memperbaiki kondisi dirinya. Hal ini sesuai dengan hadist rasulullah sallallahu ‘alaihi wassalam,

كل أمتي معافي إلا المجاهرين

Semua umatku dimaafkan kecuali Al Mujahirin.(H.R Bukhari, Kitab Adab)

Dalam hadits lain disebutkan bahwa Al Mujahirin adalah,

أن يعمل الرجل بالليل عملاً، ثم يصبح وقد ستره الله، فيقول: يا فلان، عملت البارحة كذا وكذا

Seorang laki-laki yang melakukan amalan (jelek) pada malam hari, padahal Allah sudah menutupinya, kemudian ia berkata, aku telah berbuat begini dan begini. (Hadits Sabiq)

Dan taubat ini hendaknya segera dilakukan karena Allah tidak akan mengampuni taubat mereka nafasnya sudah di kerongkongan, sebagaimana dalam kisah Fir’aun. Allah ta’ala berfirman,

وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الآنَ

Dan tidak ada taubat bagi mereka yang melakukan kejelekan sampai kemudian ketika datang kematian ia berkata, sekarang aku bertaubat. (Q.S. Annisa: 18)

Semoga kita semua menjadi hamba-hamba Allah yang bertaubat dengan taubat yang benar, dan menjadi semakin lebih baik di masa-masa yang akan datang. Aamiin.

 

Delhi, Menjelang sholat jum’at

20 April 2012

 

Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Meraih Sarjana dari Ilmu Hubungan Internasional UGM dan M.A Political Science, Jamia Millia Islamia dan M.A International Relations, Annamalai University, India. Sedang menempuh PhD Political Science di Internasional Islamic University of Malaysia. Belajar agama dari beberapa ustadz ketika sedang studi di Yogyakarta, Malang dan India. Sekarang berprofesi sebagai dosen di prodi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang

Leave a Response