Syubhat Sebagai Fitnah Terbesar

Pada pembahasan terdahulu sempat dijelaskan bahwa terdapat dua fitnah yang cukup berbahaya di tengah umat ini, yaitu fitnah syahwat dan fitnah syubhat. Kedua fitnah ini perlu dijauhi karena banyak menggelincirkan manusia dari jalan yang benar.

Namun demikian, dari kedua fitnah tersebut, yang paling berbahaya adalah fitnah syubhat. Menurut para ulama hal ini dikarenakan beberapa hal sebagai berikut:

Pertama, syubhat bias merusak tauhid. Hal ini jika kurangnya ilmu seseorang tentang Islam membuat ia sampai mempertanyakan eksistensi Allah, menolak konsep takdir, dan melakukan berbagai perkara yang mengeluarkan dari Islam lainnya.

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

يأتي الشيطان أحدكم فيقول: من خلق كذا، من خلق كذا، حتى يقول: من خلق ربك؟ فإذا بلغه) قال عليه الصلاة والسلام إذا جاءك إلى هذا الحد (فليستعذ بالله ولينته).

Syaithon akan mendatangi salah seorang dari kalian kemudian membisikkan, siapa yang menciptakan ini, sia yang menciptakan ini, sampai ia bertanya, siapa yang menciptakan Rabb-mu?. Jika sampai pada ucapan seperti ini, maka Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam mengatakan, hendaknya memohon permohonan kepada Allah dan berhenti darinya (HR. Bukhari Muslim).

Demikian juga dalam perkara takdir, terkadang ada orang-orang yang terjebak pada syubhat akhirnya ia menyesali apa yang telah terjadi dan tidak berusaha memperbaiki diri. Padahal Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda,

فإن أصابك شيء فلا تقل: لو أن فعلت كذا كان كذا وكذا، ولكن قل: قدر الله ما شاء فعل

Jika engkau ditimpakan suatu cobaan, maka jangan katakan, andai aku melakukan begini dan begini, tapi katakanlah Allah telah menetapkan semua yang dikendaki-Nya untuk terjadi (HR.Muslim)

Kedua, syubhat bias mengantarkan pada Kebid’ahan. Sementara Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam telah memerintahkan kita untuk membuat perkara-perkara baru dalam urusan agama ini.

Setiap perkara baru itu adalah bidha, dan setiap yang bid’ah adalah sesat dan akan mengantarkan ahli kepada neraka. Oleh karena itu, dalam urusan agama, hendaknya kita hanya melakukan urusan yang sudah disampaikan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam semata.

Beliau shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

من عمل عملاً ليس عليه أمرنا فهو رد

Barang siapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada urusan dariku, maka tertolak (HR.Muslim)

Hadits ini menurut para ulama merupakan salah satu pokok yang sangat penting dalam berislam. Apalagi bagi kita yang hidup di akhir zaman dimana banyak orang yang tidak lagi mencintai sunnah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam.

Bahkan tidak jarang, mereka yang mengikuti sunnah diidentikkan dengan teroris. Mereka betul-betul menjadi orang asing sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam,

بدأ الإسلام غريباً وسيعود غريباً كما بدأ فطوبى للغرباء، قالوا: من الغرباء يا رسول الله، قال: الذين يُصلحون إذا فسد الناس

Islam dimulai dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing sebagaimana ia dimulai, maka jadilah diantara orang-orang yang asing. Para sahabat bertanya, siapa mereka yang termasuk orang asing wahai Rasulullah shollallahu’alaihi wasallam. Beliau menjawab, yaitu mereka yang berbuat kebaikan ketika manusia berbuat kerusakan (HR. Tabrani)

Merekalah orang-orang yang ketika manusia sibuk mengejar dunia, ia mengejar akhirat. Ketika orang lain meninggalkan ilmu agama, ia mengejarnya. Ketika manusia tidur dengan nyenyak ia bangun dikeningan malam. Ketika manusia berbuka di siang hari, ia berpuasa, dan seterusnya.

Intinya, ketika manusia semakin jauh dari sunnah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam dan ajaran Islam yang sempurna, mereka justru mengejarnya dan memegang sunnah ini bahkan dengan gigi gerahamnya.

Mereka yakin bahwa tidak akan ada satu orang pun yang selamat dari fitnah yang terjadi di zaman ini, kecuali mereka yang berpegang teguh dengan sunnahnya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam.

Ketiga, orang yang jatuh pada syubah dan bid’ah biasanya susah untuk bertaubat. Bahayanya jika syubhat tadi pada perkara akidah dan ushul dalam agama. Para ulama mengatakan, biasanya mereka mengira bahwa mereka berada di antara petunjuk, padahal mereka sedang keluar dari sunnah.

Allah ta’ala pun mengambarkan keadaan orang-orang ini dengan firmannya,

الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

Yaitu orang-orang yang berada dalam kesesatan dalam kehidupan dunia ini, tetapi mereka mengira bahwa dirinya sedang berbuat kebaikan (Q.S. Al Kahfi: 104)

Keadaan mereka digambarkan seperti halnya orang-orang kafir qurais terdahulu yang mengatakan bahwa tidaklah kami menyembah berhala-berhala ini kecuali untuk mendekatkan diri kepada Allah, padahal mereka sebenarnya sedang jatuh kepada kesyirikan. Na’udzubillah.

Keadaan mereka berbeda dengan orang-orang yang jatuh pada kemaksiatan, dimana ia akan langsung tahu bahwa sebenarnya yang ia lakukan adalah kesalahan. Setiap dosa yang dilakukan sebenarnya menghilangkan ketenangan dalam jiwa.

Terakhir, penyakit syubhat akan menyebabkan perpecahan di tengah umat ini. Padahal dalam islam persatuan merupakan perkara penting. Allah ta’ala berfirman,

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا

Berpegang tegulah kepada agama Allah kalian semua, dan janganlah berpecah belah (Q.S. Al Imran: 103)

Hanya saja sunatullah telah ditetapkan bahwa sepeninggal Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, fitnah perpecahan akan menimpa umat ini.

Beliau shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

فإن من يعش منكم فسيرى اختلافاً كثيرا فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهدين من بعدي، تمسكوا بها وعضوا إليها بالنواجذ، وإياكم ومحدثات الأمور

Barang siapa yang hidup sepeninggalku, maka ia akan menempukan perpecahan yang banyak, hendaklah kalian berada di atas sunnahku dan sunnah para khulafaurrashidin yang telah mendapatkan petunjuk sepeninggalku, berpegang teguhlah kalian padanya, dan gigitlah sunnah tadi dengan gigi geraham, dan hati-hatilah kalian dari perkara baru dalam agama ini (HR.Muslim)

Hadits di atas menggambarkan bahwa persatuan di tengah umat ini hanya akan terwujud ketika semuanya berpegang teguh dengan sunnah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam dan para khulafaurrashidin. Untuk itu diperlukan ilmu, sehingga mereka tidak jatuh kepada syubhat.

Akhirnya, kita berdoa kepada Allah ta’ala, semua kita semua dihindarkan oleh Allah ta’ala dari sebesar-besar fitnah, yaitu fitnah syubhat. Aamin.

 

Malang, 19 Januari 2016

Akhukum Fillah, Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Pernah belajar di Hubungan Internasional UGM dan Political Science, Jamia Millia Islamia dan International Relations, Annamalai University, India. Belajar agama dari beberapa ustadz ketika sedang studi di Yogyakarta, Malang dan India. Sekarang berprofesi sebagai dosen di prodi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang

Leave a Response