Tiga Derajat Cinta Dalam Islam

Dalam hidup ini, kita tidak bisa dipisahkan dari perasaan cinta dan benci. Hanya saja, seorang muslim wajib memahami cara memposisikan cinta dalam hidupnya. Jangan sampai perasaan cinta yang dimiliki membahayakan bagi dunia dan akhiratnya.

Dalam islam, cinta dibagi menjadi tiga, yaitu cinta yang tertinggi, pertengahan, dan rendah. Ketiga cinta tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :

Pertama, cinta yang tertinggi, yaitu cinta kepada Allah dan Rasulullah. Sebagai bukti cinta kepada Allah dan Rasulullah, maka seorang muslim akan senantiasa mempelajari islam dengan dalil yang shohih dari Alqur’an dan sunnah.

Tidak hanya itu, ia pun mengamalkan ilmu dengan penuh keikhlasan sebagai bentuk ketaatan kepada Allah. Bahkan kenikmatan dalam berislam tidak ia nikmati sendiri, melainkan disampaikan kepada orang lain melalui dakwah.

Cita-cita tertinggi dari seorang muslim adalah bertemu dengan Rabb yang ia cintai dan berkumpul denga para nabi dan orang-orang sholeh. Ia tidak ingin perhiasan dunia mengganggu cita-cita akhiratnya. Dalam dadanya terpatri firman Allah ta’ala,

قُل إِن كانَ آباؤُكُم وَأَبناؤُكُم وَإِخوانُكُم وَأَزواجُكُم وَعَشيرَتُكُم وَأَموالٌ اقتَرَفتُموها وَتِجارَةٌ تَخشَونَ كَسادَها وَمَساكِنُ تَرضَونَها أَحَبَّ إِلَيكُم مِنَ اللَّهِ وَرَسولِهِ وَجِهادٍ في سَبيلِهِ فَتَرَبَّصوا حَتّى يَأتِيَ اللَّهُ بِأَمرِهِ وَاللَّهُ لا يَهدِي القَومَ الفاسِقين

Katakanlah, jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, isteri-isterimu, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu dapati, perniagaan yang kamu takutkan kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik (Q.S. Attaubah:24)

Kedua, derajat cinta yang pertengahan, yaitu cinta kepada sesama makhluk, utamanya manusia. Di antara cinta tingkatan menengah ini termasuk cinta kepada istri, cinta kepada kedua orang tua, cinta kepada anak, dan cinta kepada sesama mukmin.

Seorang mukmin hatinya akan terikat dengan mukmin lainnya. Ia senang mendengar saudaranya mendapatkan kebaikan, dan ia pun turut merasakan penderitaan saudaranya yang lain. Gambaran persaudaraan ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

مَثلُ المؤمنين في توادِّهم وتراحُمِهم وتعاطُفِهم مَثلُ الجسدِ؛ إذا اشتكَى منه عضوٌ تداعَى له سائرُ الجسدِ بالسَّهرِ والحُمَّى

Perumpamaan mukmin dengan saudaranya dalam kecintaan, kasih sayang, dan kelembutan seperti satu tubuh. Jika satu bagian merasakan sakit, ia akan menyebabkan semua anggota tubuh merasakan sakit dan tidak biaa tidur (HR. Muslim).

Oleh karena itu, sebagai bentuk cinta kepada manusia lain, haram bagi seorang muslim untuk menyimpan rasa boleh hasad, memutus silaturahim, dan atau saling menjauhi sampai lebih dari tiga hari. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لا يحلُّ لمسلمٍ أن يهجرَ أخاه فوقَ ثلاثِ ليالٍ

Tidak halal bagi seorang muslim menjauhi saudaranya lebih dari tiga malam (H.R. Bukhari).

Ketiga, cinta yang rendah. Termasuk dalam kategori cinta ini adalah mencintai orang yang tidak bertaudid, bahkan memusuhi Allah, mencintai kemaksiatan, kemungkaran, dan memperturutkan syahwat.

Para ulama pun menyatakan bahwa ketika mendahulukan cinta tingkatan menengah seperti cinta  kepada orang tua, pasangan, anak, dan harta di atas cinta tertinggi kepada Allah dan Rasul, maka seseorang sudah jatuh pada cinta yang hina.

Berdasarkan uraian di atas, jelas bahwa hanya dua cinta pertama yang dibolehkan, dan itu pun wajib dengan urutan yang tepat. Adapun cinta yang ketiga, hendaknya kita hindarkan.

Kita berdo’a, semoga Allah ta’ala membimbing hati-hati kita supaya bisa meletakkan rasa cinta sebagaimana syari’at Islam menuntunnya. Aamiin.

Kuala Lumpur, 15 Desember 2018
Akhukum Fillah, Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Meraih Sarjana dari Ilmu Hubungan Internasional UGM dan M.A Political Science, Jamia Millia Islamia dan M.A International Relations, Annamalai University, India. Sedang menempuh PhD Political Science di Internasional Islamic University of Malaysia. Belajar agama dari beberapa ustadz ketika sedang studi di Yogyakarta, Malang dan India. Sekarang berprofesi sebagai dosen di prodi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang

Leave a Response