Ukhti, Aku Mencintaimu Karena Allah

Berdasarkan beberapa interaksi dan pengalaman kami berhubungan dengan beberapa aktifis  mahasiswa, tidak jarang ditemukan adanya kasus virus merah jambu. Di balik kesibukan aktifitas mereka ternyata diam-diam perasaan saling menyukai pun tidak bisa dibendung.

Jika perasaan tersebut hanya disimpan dan tidak dinampakkan sebenarnya tidak ada masalah. Hal tersebut memang merupakan fitrah manusia, apalagi bagi mereka yang sudah berajak dewasa.

Perasaan ini seharusnya menjadi pertanda bahwa mereka harus segera mengoptimalkan persiapan diri menjelang pernikahan. Segera menyelesaikan kuliah, mulai belajar hidup mandiri, semakin memahami Islam, mengkondisikan keluarga, dan melakukan berbagai persiapan lainnya.

Namun tidak jarang mereka yang dinilai sudah berpenampilan Islami pun masih jatuh pada fitnah ini. Interaksi atas nama kegiatan organisasi pun terus mereka lakukan. Padahal tipu daya syaithon pun sudah menyelinap dalam hati mereka.

Mulailah dari awal bertanya tentang masalah organisasi, tetapi kemudian bertanya hal-hal yang tidak penting. Ada yang bertanya sudah makan belum?. Atau bahkan ada yang di tengah malam sms membangunkan pujaan hatinya untuk sholat malam.

Bahkan, sampai-sampai ada pula yang secara terang-terangan mengirimkan sms “ukhti, aku mencintaimu karena Allah”. Mereka seakan membungkus rasa cinta ini dalam bingkai pacaran Islami.

Hari-hari yang mereka lalui pun terasa semakin ceria dan penuh semangat. Terasa ada yang akan menjadi pemerhati dalam setiap tindak tanduknya.

Namun sayang, mereka mungkin lupa untuk lebih dalam memahami agama ini. Mereka mulai jarang membaca alquran dengan tadabbur, sholat dengan khusu’ di keheningan malam, dan juga kurang bersemangat dalam belajar bahasa arab untuk bisa membaca kitab-kitab para ulama.

Mereka tertipu dengan perasaannya dan masuk dalam perangkat syaithon. Bahayanya terkadang tidak merasa karena seakan apa yang dilakukannya sudah merupakan sesuatu yang syar’i.

Padahal dalam Islam, memang saling mencintai karena Allah merupakan salah satu hal yang akan bisa membuat kita merasakan bagaimana manisnya iman. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ثلاث من كن فيه وجد بِهِن حلاوة الإيمان: أن يكون اللَّه ورسوله أحب إِليه مما سواهما، وأن يحب المرء لا يحِبه إلا لله، وأن يكره أن يعود في الكفر بعد إذ أنقذه اللَّه منه كما يكره أن يقذف في النَّار

Tiga perkara yang jika ia memilikinya maka niscaya mendapatkan manisnya iman   iman, ia lebih mencintai Allah dan rasul dari selainnya, dan ia mencintai seseorang tidaklah selain karena Allah, dan ia membenci kembali kepada kekafiran setelah mendapatkan petunjuk Allah sebagaimana ia benci dilemparkan ke dalam neraka (HR. Bukhari)

Dalam hadits yang lain yang diriwayatkan oleh Abdullah ibnu Abbas radiyallahu ‘anhu, Rasulullah shollallahu’alaihi wasallam juga bersabda,

أوثق عرى الإيمان الحب في الله والبغض في الله

Tali iman yang paling kuat adalah engkau mencintai karena Allah dan membenci karena Allah. (HR. Tabrani)

Dalam hal ini seorang hamba berusaha  hanya untuk melihat suatu perkara dari sudut pandang Rabbnya. Jika Allah ridho maka ia akan menyenanginya, tetapi jika Allah tidak ridho maka ia pun akan membencinya.

Dan karena ini pula Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam telah mempersaudarakan kaum muhajirin dengan kaum anshor. Dengan kecintaan antara satu dengan yang lainnya karena Allah maka umat Islam pun menjadi semakin kuat.

Perasaan saling mencintai ini pun bisa semakin kuat jika kita melafadzkannya terhadap orang yang kita cintai dengan mengucapkan, إني أحبك في الله (Aku mencintaimu karena Allah). Maka yang mendengarkan diminta untuk menjawab, أحبك الله الذي أحببتني له (Semoga Allah pun mencintamu sebagaimana engkau telah mencintaiku karena-Nya).

Namun dalam perkara ini, para ulama mengatakan bahwa ucapan dan perasaan ini hanya ditujukan bagi kaum laki-laki terhadap laki-laki lainnya, dan wanita terhadap wanita lainnya. Adapun dalam perkara hubungan antara laki-laki dengan perempuan, maka ini sifatnya berlaku umum, bukan dikhususkan untuk laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya.

Adapun jika mulai banyak di antara kalangan yang beralasan bahwa ini dilakukan atas dasar cinta karena Allah, maka hal tersebut tidak lebih dari tipu daya syaithon. Allah ta’ala berfirman,

يا أيها الذين آمنوا لا تتبعوا خطوات الشيطان

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengikuti tipu daya syaithon (Q.S. Annur:21)

Karena sungguh ketika wanita atau laki-laki mendengar ucapan tersebut dari lawan jenisnya, maka ia akan mulai terbayang dan susah melupakannya. Apalagi bagi seorang wanita dimana sudah menjadi karakter mereka untuk mudah tergoda dengan kata-kata.

Akhirnya, peluang untuk membicarakan dan berhubungan dengan hal-hal yang tidak syar’i lainnya mulai terbuka dan bisa menjatuhkan mereka pada perbuatan zina yang keji. Na’uzubillah.

Semoga kita semua dibimbing oleh Allah ta’ala untuk semakin memahami agama ini dan mengucapkan, aku mencintaimu karena Allah hanya untuk istri dan mahram kita semata. Aamin.

 

Trento, 9 Februari 2015

Akhukum fillah, Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Pernah belajar di Hubungan Internasional UGM dan Political Science, Jamia Millia Islamia dan International Relations, Annamalai University, India. Belajar agama dari beberapa ustadz ketika sedang studi di Yogyakarta, Malang dan India. Sekarang berprofesi sebagai dosen di prodi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang

Leave a Response