Urgensi Tauhid Uluhiyah

Para ulama telah membahas tauhid menjadi tauhid rububiyah, uluhiyah dan asma’ washifaat. Dalam perkara ibadah dan penyembahan kepada Allah ta’ala, posisi tauhid uluhiyah berbeda dengan tauhid yang lainnya, utamanya tauhid rububiyah.

Jika tauhid rububiyah yang berasal dari kata “rabb” meyakini bahwa Allah ta’ala adalah pencipta, pemberi rezeki, raja dari semua diraja, yang mengatur perputaran matahari, bulan dan semua apa yang ada di langit dan di bumi, maka tauhid uluhiyah yang berasal dari kata “ilah” menunjukkan penyerahan diri seorang hamba untuk betul-betul beribadah hanya kepada Allah ta’ala semata.

Hal inilah yang mengjadi alasan mengapa para ulama menjelaskan bahwa tauhid uluhiyah adalah perkara yang akan membedakan antara seorang muslim dengan seorang kafir atau musyrik. Sudah menjadi fitrah manusia bahwa semua orang akan menyakini tauhid rububiyah.

Ketika dulu orang-orang kafir ditanya tentang siapa yang menciptakan langit dan bumi, maka mereka pun menjawab, Allah. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Allah ta’ala dalam firman-Nya,

ولئن سألتهم من خلق السماوات والأرض وسخر الشمس والقمر ليقولن الله فأنى يؤفكون

Dan jika engkau menanyakan kepada mereka tentang siapa yang menciptakan langit dan bumi dan telah menundukkan matahari dan bulan?, maka pas mereka akan mengatakan Allah. Maka mengapa mereka berpaling (Q.S. Al Ankabut:61)

Adapun tauhid uluhiyah menunjukkan bahwa seseorang itu sudah keluar dari kesyirikan menuju cahaya islam. Ia tidak sekedar menjadi tauhid hanya sebatas ilmu dan wawasan, tetapi membuktikannya dengan amalan perbuatan yang menunjukkan penyembahannya kepada Allah ta’ala.

Orang yang benar tauhid uluhiyahnya akan menyembah Allah ta’ala semata. Ia tidak lagi akan mencari tuhan selain Allah ta’ala termasuk hawa nafsunya. Sebagaimana kita lihat dan saksikan di era sekarang ini, betapa banyak mereka yang sudah jatuh pada jahiliyah modern.

Mungkin mereka akan tertawa jika diceritakan keadaan orang-orang qurais terdahulu yang melakukan penyembahan terhadap patung-patung yang tidak bisa berbuat apa-apa. Apalagi sebagian dari mereka membuat patung tadi dari tepung sehingga ketika mereka lapar pun memakan tuhannya.

Jika ingin dilihat lebih mendalam, maka penyembahan manusia di era sekarang terhadap berbagai bendah mempunyai kemiripan dengan apa yang mereka lakukan. Memang tidak disembah secara langsung, tetapi lihat betapa banyak mereka yang lebih mencintai perkara-perkara dunia tadi daripada apa yang Allah tawarkan dari perkara akhirat.

Banyak di antara mereka yang ketika mendapatkan panggilan sholat, ternyata masih sibuk saja dengan urusan dunianya. Ketika mendapatkan panggilan untuk berinfaq atau membayar zakat, mereka begitu mencintai hartanya bahkan dengan cara yang berlebihan dan seterusnya.

Sebagian dari manusia modern juga bisa terlihat perilaku mereka yang ternyata lebih banyak membaca koran dibandingkan dengan Al Quran. Atau mereka lebih banyak membaca hardisc (dari handphone atau laptop) mereka dibandingkan dengan bacaan mereka terhadap hadits Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam.

Masih banyak hal-hal serupa yang bermakna pentingnya bagi kita untuk semakin menguatkan dakwah tauhid uluhiyah di tengah masyarakat kita sekarang ini. Artinya tidak cukup bagi seorang muslim untuk hanya bersandar pada tauhid rububiyah sementara ia tidak memperbaiki tauhid uluhiyahnya.

Dengan dakwah tauhid uluhiyah ini maka diharapkan semua umat Islam belajar untuk menjadi orang-orang yang ikhlas. Pada setiap amalan yang mereka lakukan tidak ada lagi yang mereka cari kecuali hanya untuk mendekatkan diri mereka kepada Allah ta’ala semata.

Bagi mereka, syariat Allah dan rasul-Nya adalah panduan yang sempurna untuk membawa manusia hidup dalam kebahagiaan dunia dan akhirat. Oleh karena itu, ia akan senantiasa berusaha untuk mengikuti semua yang Allah dan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam perintahkan dan mejauhkan diri dari semua apa yang dilarang.

Dalam perkara keislaman, ia begitu fokus dengan rukun islam dan rukun iman. Ia tidak ingin ada fundasi bangunan yang roboh dari agamanya. Makanya, perkara sholat, puasa, zakat, haji jika sudah mampu, berbuat baik pada kedua orang tua, menyambung silaturahmi dan seterusnya menjadi hal yang sangat ia perhatikan dan jaga.

Ia tahu bahwa di atas kalimat tauhid uluhiyah inilah para nabi telah diutus oleh Allah ta’ala. Semua nabi membawa kalimat لا إله إلا الله yang bermakna لا معبود بحق إلا الله(tidak ada yang berhak untuk disembah kecuali Allah ta’ala semata).

Saking pentingnya perkara ini, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam selama 13 tahun di Makkah pada masa awal kenabiannya fokus hanya dengan perkara tauhid. Pada saat itu, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam belum menyampaikan perkara syariat kecuali sholat.

Adapun perkara yang lain seperti syariat azan, zakat, puasa, haji, hudud, dan lain sebagainya baru beliau sampaikan ketika sudah memasuki fase Madinah. Rasulullah shollallahu ‘ alaihi wasallam paham betul bahwa akidah adalah fundasi dan asas dasar agama ini.

Karena itu, beliau shollallahu ‘alaihi wasallam bersabar di atas dakwah tauhid. Sebesar apapun tantangan yang dihadapi mereka paham bahwa jika tauhid suatu masyarakat sudah kuat, maka perkara yang lain pun akan mudah untuk diatasi.

Nabi Nuh ‘alaihisallam misalnya, bahkan beliau menyerukan kalimat tauhid sampai 950 tahun. Beliau bersabar di atasnya meskipun hanya sedikit sekali yang mengikutinya. Bahkan dakwah beliau pun ditolak oleh anaknya sendiri. Sementara umatnya yang lain sibuk mengatakan bahwa sesungguhnya nuh telah menjadi orang gila.

Demikian juga dengan para nabi-nabi lainnya seperti Hud, Sholeh, Syu’aib, alaihimmissalam dan semua nabi lainnya. Tidaklah yang mereka bawa kecuali kalimat tauhid utamanya tauhid uluhiyah. Allah ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اُعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus pada setiap umat Rasul yang menyeru untuk menyembah Allah dan menjadukan diri dari thoghut (Annahl:36)

Kita berdoa kepada Allah ta’ala semoga kita semua dipahamkan dan dikuatkan di atas kalimat tauhid yang benar. Aamiin.

 

Malang, 27 Februari 2016

Akhukum Fillah, Gonda Yumitro

 

Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Pernah belajar di Hubungan Internasional UGM dan Political Science, Jamia Millia Islamia dan International Relations, Annamalai University, India. Belajar agama dari beberapa ustadz ketika sedang studi di Yogyakarta, Malang dan India. Sekarang berprofesi sebagai dosen di prodi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang

Leave a Response