Ustadz Fadlan dan Cobaan Di Jalan Dakwah

Beberapa hari yang lalu, kami bertemu dan mengadakan diskusi dengan ustadz Fadlan Garamatan. Beliau adalah seorang da’i dari Papua yang sudah malang melintang di dunia dakwah dan telah mengislamkan ribuan orang.

Kesuksesan tersebut tidak dicapai dengan tiba-tiba, melainkan melalui proses panjang yang penuh dengan cobaan. Sejak mulai meniti jalan dakwah, beliau harus rela meninggalkan pekerjaan mapan yang sebelumnya beliau jalani.

Padahal setelah itu, berbagai kesulitan pun telah menanti. Paling tidak dalam perjalanan dakwahnya beliau sempat 3 kali masuk penjara tanpa pengadilan, masing-masing selama 3 bulan, 6 bulan dan 9 bulan. Alasannya karena beliau mengislamkan masyarakat Irian.

Belum termasuk ancaman jiwa yang seringkali beliau alami. Pernah kaki beliau kena tombak kepala suku sehingga harus diinapkan ke rumah sakit selama beberapa minggu. Demikian juga dengan binatang buas yang seringkali mengancam. Tidak jarang beliau harus berjalan selama beberapa bulan melalui hutan untuk mencapai lokasi dakwah.

Meskipun sudah melakukan perjuangan seperti ini dan beberapa kali dakwah beliau pun ditolak, tetapi beliau tetap bersabar. Beliau mengatakan bahwa kesulitan yang ia alami belum ada apa-apanya dibandingkan dengan kesulitan dan cobaan yang dialami oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat.

Masih banyak kisah-kisah lain yang beliau sampaikan. Namun secara sederhana kami mendapatkan kesimpulan bahwa beliau sangat cinta terhadap Islam dan NKRI. Melalui dakwah beliau ingin membuat masyarakat Papua menjadi lebih beradab dan berkemajuan.

Bagi beliau berbagai cobaan yang dihadapinya merupakan cara untuk membuktikan keimanan kepada Allah ta’ala. Hal ini sesuai dengan firman Allah ta’ala,

أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ، وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

Apakah manusia mengira bahwa mereka akan ditinggalkan begitu saja mengatakan kami telah beriman sementara mereka tidak diuji?. Dan sungguh kami telah menguji orang-orang sebelum mereka sehingga Allah tahu siapa mereka yang jujur (keimanannya) dan mengetahui siapa yang berdusta (Al Kahfi: 2-3)

Ayat ini menunjukkan bahwa kita tidak bisa meniti jalan dakwah dengan santai dan berleha-leha.  Sejarah dunia telah menunjukkan bagaimana berbagai kesulitan yang dialami oleh mereka yang meniti jalan mulia ini.

Sebagian harus rela terusir dari kampung halamannya. Sebagian harus siap untuk terpisah dari keluarganya. Sebagian harus siap mengalami kesulitan ekonomi dan penentangan dari kaumnya. Serta masih banyak kesulitan-kesulitan lainnya.

Namun para da’i akan menempuh jalan ini dengan bahagia. Berbagai kesulitan yang mereka hadapi tidak terasa membebani karena hati mereka yang lapang dan luas. Jiwanya dipenuhi oleh rasa cinta kepada Allah ta’ala.

Bagi seorang da’i, kondisi apa saja yang dialaminya pasti merupakan hal terbaik. Sebagai seorang yang beriman, kesulitan yang dihadapi menuntut dirinya untuk menjadi seorang yang sabar. Demikian juga ketika mendapatkan nikmat misalnya ketika orang-orang mulai mengikuti jalan yang ia dakwahkan, ia pun merasa bersyukur.

Baginya, jalan ini adalah latihan jiwa yang luar biasa. Di satu sisi ia harus siap menghadapi berbagai kesulitan, pada sisi lain ia pun senantiasa memohon kepada Allah agar diberikan kekuatan dan keistiqomahan di jalan kebenaran.

Yang ia munculkan dalam dakwah adalah rasa kasih sayang. Ia menebar cinta untuk semua orang, termasuk dirinya sendiri. Kesombongan dalam dirinya pun dipendam dalam-dalam karena ia takut dirinya tergelincir dalam kesalahan. Di samping sikap roja’, dalam dirinya muncul rasa khouf.

Kehatian-hatian dan wara’ mereka terlihat dalam kisah yang diceritakan oleh Abu Ubaid yang menyampaikan bahwa beliau mendapatkan cerita dari Yahya bin Said dari Sa’id dari Abi Asyhab, bahwa Hasan Al Bashri menceritakan, pernah ada seseorang mengatakan kepada Ibnu Mas’ud, “Aku seorang mukmin”. Maka Ibnu Mas’ud pun mengatakan, “Apakah engkau termasuk dari ahli surga?”. Ia mengatakan, “Aku berharap”. Maka Ibnu Mas’ud mengatakan “Kenapa engkau tidak mengatakan juga yang demikian untuk keimananmu?”

Mereka yang sukses dalam menjalani berbagai cobaan tadi, baik berupa kesulitan maupun nikmat, itulah yang termasuk diantara orang-orang yang bertaqwa karena kebenaran iman mereka. Allah ta’ala befirman,

أُولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

Merekalah orang-orang yang jujur dan merekalah orang-orang yang bertaqwa (Q.S. Al Baqorah: 177)

Kita berdoa kepada Allah ta’ala, semoga kita semua diberikan kesabaran oleh Allah ta’ala untuk  menghadapi kesulitan apapun di jalan dakwah ini. Aamin.

 

Malang, 29 Agustus 2015

Akhukum Fillah, Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Meraih Sarjana dari Ilmu Hubungan Internasional UGM dan M.A Political Science, Jamia Millia Islamia dan M.A International Relations, Annamalai University, India. Sedang menempuh PhD Political Science di Internasional Islamic University of Malaysia. Belajar agama dari beberapa ustadz ketika sedang studi di Yogyakarta, Malang dan India. Sekarang berprofesi sebagai dosen di prodi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang

Leave a Response