Para ulama telah banyak membahas masalah sahabat yang baik dalam masalah keimanan. Bahkan dikatakan bahwa mereka yang saling mencintai karena Allah merupakan bukti keimanan dari keduanya. Mereka menjadikan persaudaraan yang dibina terikat kuat karena keimanan.
Muncul kesadaran yang mantap bahwa seorang mukmin adalah saudara bagi mukmin yang lainnya. Ia menyadari betapa besar amanah yang diperintahkan oleh Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau bersabda,
لا يؤمن أحدكم حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه
Tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya (HR. Bukhari)
Persaudaraan yang mereka bangun bukan sekedar pertemanan biasa. Apalagi hubungan yang penuh dengan intrik dan niat licik. Menjadi teman ketika dibutuhkan dan menikam dari belakang.
Tidak sama sekali tidak. Malahan persahabatan mereka dalam rangka membawa panji-panji dakwah. Mereka bersahabat agar bisa semakin dekat dengan Allah ta’ala. Mereka bersahabat karena kecintaannya kepada Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam.
Bagi mereka persaudaraan tersebut merupakan manifestasi dari kecintaan yang mendapat kepada Rasulullah yang mulia. Beliau shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من ولده ووالده والناس أجمعين
Tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai ia menjadikanku lebih dicintai dari orang tua, anak-anaknya dan manusia semuanya (HR. Bukhari)
Karenanya tidak ada iri dan dengki dalam hatinya terhadap nikmat yang didapatkan oleh saudaranya. Ketika melihat saudaranya bahagia, maka ia turut senang. Sebaliknya ketika saudaranya bersedih maka jiwanya pun ikut merasakan.
Hubungan mereka sebagaimana digambarkan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam,
ترى المؤمنين في توادهم وتراحمهم وتعاطفهم مثل الجسد إذا اشتكى منه عضو تداعى له سائر الجسد بالسهر والحمى
Kamu melihat kaum mukminin dalam berkasih sayang, mencintai, tenggang rasa, adalah seperti satu tubuh, jika ada bagian tubuh yang sakit maka seluruh tubuh lainnya merasakan panas dan berjaga (HR Bukhari Muslim)
Dalam doa yang mereka panjatnya, maka ia pun turut memohon kebaikan bagi saudaranya. Artinya bukan hanya dalam dunia fisik mereka bersahabat, tetapi sudah memasuki dunia jiwa. Allah ta’ala berfirman,
وَالَّذِينَ جَاؤُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإِيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
Dan orang-orang yang datang dari mereka berdoa, wahai Rabb kami, ampunkanlah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dalam keimanan, dan jangan jadikan di hati kami ada kebencian kepada orang-orang yang beriman. Wahai Rabb, engkaulah yang maha lembut dan penyayang. (Q.S.Al Hashr:10)
Jika pun mungkin pernah terjadi perselisihan atau perbedaan pendapat dari mereka, maka hal tersebut tidak dibiarkan berlarut. Mereka akan segera memperbaikinya dan kembali merasakan indahnya persaudaraan karena Allah.
Allah ta’ala berfirman,
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara, maka perbaikilah di antara saudara-saudara kalian, dan bertakwalah kepada Allah, agar kalian mendapatkan rahmat. (Q.S. Al Hujurat: 10)
Dengan persaudaraan seperti ini, pantas ketika Allah merasakan kepada mereka manisnya keimanan. Indahnya persaudaraan dalam ikatan Islam. Hal ini sebagaimana digambarkan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam dalam suatu hadits,
ثلاث من كن فيه وجد بِهِن حلاوة الإيمان: أن يكون اللَّه ورسوله أحب إِليه مما سواهما، وأن يحب المرء لا يحِبه إلا لله، وأن يكره أن يعود في الكفر بعد إذ أنقذه اللَّه منه كما يكره أن يقذف في النَّار
Ada tiga perkara yang siapa saja memilikinya, maka diberikan padanya manisnya keimanan. Ia mencintai Allah dan Rasulnya lebih dicintai dibandingkan dengan selainnya, dan ia mencintai seseorang tidaklah kecintaan itu kecuali karena Allah, dan ia benci kembali kepada kekafiran setelah mendapatkan petunjuk dari Allah, sebagaimana ia benci dilemparkan ke dalam neraka (HR. Bukhari)
Kita berdoa kepada Allah ta’ala, semoga kita semua dikaruniakan sahabat-sahabat sejati. Mereka orang-orang yang mencintai kita hanya karena Allah ta’ala. Aamin.
Trento, 18 Februari 2015
Akhukum Fillah, Gonda Yumitro

