Banyak bicara merupakan salah satu pintu dosa yang membuat hati ternoda dan menghilangkan ketenangan dalam jiwa. Karenaya banyak mereka yang menyesal akibat ucapan yang keluar padahal belum pernah ia pikirkan sebelumnya. Ia bicara tanpa menimbang apakah ada manfaat atau tidak dari ucapannya.
Oleh karena itu, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرا أو ليصمت
Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat, maka berkatalah baik atau diam (HR.Bukhari)
Hadits ini mengajarkan kepada seorang mukmin untuk selalu melakukan kebaikan dari setiap detik yang dilaluinya. Kehidupan di dunia ini sangat singkat dan tidak seharusnya digunakan untuk berbuat kejelekan.
Ucapan yang keluar dari lisan kita haruslah kebaikan. Jika tidak bisa menyampaikan kebaikan, maka kita perlu memperbanyak diam. Karena dalam diam kita akan bisa berfikir jernih. Karena dalam diam kita akan bisa menjaga kewibawaan diri.
Dalam hadits tadi juga terlihat bahwa bicara dan diam seperti dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan, tetapi berbeda antara satu dengan lainnya. Jika kita diam, maka tidak mungkin berbicara, tetapi kalau sudah berbicara tidak mungkin akan diam.
Namun sayang tidak semua orang menjaga nikmat lisan ini. Ia tidak menyadari bahwa mulutnya yang hanya satu dan telinganya diciptakan dua punya makna supaya ia lebih banyak mendengar daripada berbicara.
Banyak manusia yang tertipu. Keikhlasan hilang dari hati mereka. Akhirnya, ia mengira bahwa dengan banyak bicara dirinya akan terlihat lebih mulia atau lebih cerdas di depan manusia.
Amat sangat disayangkan. Maksiat lisan ini mereka lakukan tetapi mengundang murka dari Allah ta’ala. Jika mereka tahu dan tertanam kuat dalam hati akan kebencian Allah terhadap mereka yang banyak bicara padahal tidak ada kebenaran dalam ucapannya, maka niscaya ia pun akan lebih memilih untuk diam.
Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
إن الله يكره لكم قيل وقال، وكثرة السؤال
Sesungguhnya Allah membenci kalian yang banyak bicara itu dan ini, dan banyak dalam bertanya – yg tidak ada manfaatnya (HR. Bukhari Muslim)
Sungguh, ucapan yang keluar dari lisan kita menggambarkan siapa diri kita sebenarnya. Mereka yang banyak berfikir dan memunculkan ketakutan dalam dirinya kepada Allah ta’ala, maka ucapannya pun akan penuh makna. Sementara mereka yang hanya menyimpan urusan dunia dalam hati dan fikirannya, maka ia juga akan menampakkan hal ini dalam ucapannya.
Karenanya, orang-orang yang banyak berucap tanpa ilmu, kerusakan akan muncul dari lisan mereka. Dalam lisannya hanya tersisa fitnah, kebohongan, ghibah, dan sejenisnya.
Betapa banyak kerusakan dalam keluarga, di tengah masyarakat, bahkan dalam suatu bangsa sekali pun dikarenakan lisan. Apalagi di tengah zaman yang tembok seakan bisa bicara. Apa yang diucapkan di suatu tempat, akan dengan mudah menyebar kepada orang lain.
Inilah akibat ucapan yang bukan digunakan untuk kebaikan. Seringkali hanya akan berakhir dengan penyesalan. Namun demikianlah lisan, ketika sudah keluar begitu sulit untuk dikembalikan.
Karenanya, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,
كل كلام ابن آدم عليه لا له، إلا أمراً بمعروف، أو نهياً عن منكر، أو ذكر الله عز وجل
Setiap ucapan anak Adam tidak ada maknanya, kecuali mereka (yang dengan lisannya) memerintahkan kepada yang makruf, atau mencegah dari yang mungkar, atau berdzikir kepada Allah ta’ala (HR. Tarmidzi)
Maka, marilah kembali kita renungi ucapan yang telah keluar dari lisan kita. Betapa jauhnya kita dari para salafus sholeh. Mereka adalah suatu kaum yang senantiasa menghisab dirinya sebelum berucap. Sebelum memberikan komentar atau menyampaikan sesuatu, biasanya mereka terdiam untuk memikirkannya terlebih dahulu.
Oleh karena itu, sebagai seorang yang beriman kepada Allah ta’ala, hendaknya kita mulai berfikir bahwa setiap apa yang ia lakukan akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah ta’ala, termasuk dalam ucapan. Jangan sampai ucapan kita menjadi penyebab datangnya adzab Allah ta’ala.
Selain itu, seorang yang beriman juga perlu untuk mencari lingkungan dan teman-teman yang baik sehingga ia pun bisa menjaga ucapannya karena betapa besar pengaruh teman terhadap kita. Banyak orang yang sebenarnya pendiam, juga berbicara tanpa ilmu ketika sudah berkumpul dengan teman-teman mereka.
Allah ta’ala berfirman,
اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
Bertakwalah kepada Allah dan jadilah bersama orang-orang yang benar (Q.S. Attaubah: 17)
Dengan berkumpul bersama orang-orang yang bertakwa kepada Allah dam jujur, niscaya kita pun akan mengikuti mereka. InsyaAllah lisan kita pun akan lebih terjaga karena kita lebih banyak untuk memilih diam.
Semoga Allah ta’ala memberikan kepada kita keselamatan dalam lisan kita, dan kita pun termasuk di antara orang-orang yang banyak diam dan hanya berucap untuk kebaikan semata. Aamin.
Trento, 23 Februari 2015
Akhukum Fillah, Gonda Yumitro

