Mensyukuri Nikmat Waktu

Hari ini adalah hari terakhir program kami di Trento. Nanti malam kami akan segera berangkat ke Milan, untuk besok siang melanjutkan perjalanan ke Indonesia, dengan beberapa jam transit di Belanda. InsyaAllah kamis malam, kami sudah akan tiba di Malang.

Terasa begitu cepat waktu berlalu. Rasanya baru kemaren kami mengurus visa di Jakarta atau masih terbayang di depan mata awal mula kekagetan kami dengan berbagai pengalaman baru di Eropa, ternyata semua satu bulan sudah.

Hal ini sama halnya dengan berbagai pengalaman lainnya. Kami masih ingat persis beberapa pengalaman masih kecil di kampung halaman yang jauh dari hiruk pikuk kota, seakan tanpa terasa kini kami sudah menjadi seorang suami dengan dua orang anak.

Dulu masih ingat bagaimana pengalaman menjadi mahasiswa baru yang begitu khusu’ menunggu kedatangan dosen, kini kami pun diminta kembali berempati dengan pengalaman tersebut.

Masih banyak kisah-kisah lainnya, tetapi semua menunjukkan bahwa waktu begitu cepat berlalu dan pada saat yang sama kehidupan kita pun berubah. Bahkan tidak sedikit dari para sahabat kami yang sekarang sudah tiada. Tinggal urusan waktu, kita tidak pernah tahu kapan giliran kita akan tiba.

Karenanya perlu kiranya untuk kembali merenungi hakikat waktu. Waktu yang merupakan suatu nikmat besar yang telah diberikan oleh Allah ta’ala kepada kita. Waktu yang ibarat sebuah buku, maka disana kita bisa menulis apapun di dalamnya.

Dalam perkara waktu, yang ada adalah masa kini. Masa lalu tak kan kembali, dan masa depan belum pasti. Ada orang yang diberikan waktu cukup banyak oleh Allah ta’ala dimana ia diwafatkan sampai usia tua, tetapi betapa banyak mereka yang masih muda belia bahkan bayi dipanggil seakan tanpa pertanda apa-apa.

Berkenaan dengan ini, seorang yang beriman akan merasakan bahwa waktu yang dimilikinya sangat penting dan terbatas. Ia akan berusaha untuk memanfaatkan setiap detik yang dilewatinya hanya untuk kebaikan.

Saking pentingnya masalah waktu ini, Allah pun bersumpah dengan waktu, pada berbagai keadaannya. Di antaranya Allah berfirman dengan waktu malam, waktu subuh, waktu fajar, waktu dhuha, dst.

Menurut para mufasirin selain menunjukkan pentingnnya ayat yang akan disampaikan setelah itu, penggunaan nama makhluk berupa waktu oleh Allah ta’ala untuk bersumpah menunjukkan pentingnya posisi waktu dalam kehidupan ini.

Dan dalam banyak hadits, rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam juga membahas masalah waktu. Beliau shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

اغتنم خمسًا قبل خمس: شبابك قبل هرمك، وصحتك قبل سقمك، وغناك قبل فقرك، وفراغك قبل شغلك، وحياتك قبل موتك

Perhatikanlah lima perkara sebelum datang lima perkara, masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, masa kayamu sebelum datang kefakiran, masa luangmu sebelum datang masa sibuk dan saat hidupmu sebelum datang kematian (HR. Baihaki)

Namun sudah menjadi sunatullah bahwa banyak di antara manusia yang lalai dengan nikmat ini. Hal ini sebagaimana hadits Rasulullah shollalahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas radiyallahu ‘anhu,

نعمتان مغبون فيهما كثير من الناس، الصحة والفراغ

Ada dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu karenanya, kesehatan dan waktu luang (HR. Bukhari)

Kebanyakan di antara manusia baru merasakan bagaimana pentingnya waktu ketika mereka sudah berada dalam kesibukan. Ketika luang mereka suka menunda-nunda pekerjaan, tetapi ketika sibuk jika bisa mereka pun mau membeli waktu yang dimiliki orang lain dengan harga mahal.

Dalam perkara waktu hanya orang berimanlah yang akan beruntung, sementara yang lainnya akan merugi. Mereka adalah orang-orang yang menggunakan waktunya untuk saling menasehati dalam kebaikan dan dalam kesabaran.

Bagi seorang mukmin, waktu tidak dilihat sekedar sebagai kesempatan, tetapi ia akan menjadikannya sebagai amanah. Seorang mukmin meyakini bahwa suatu saat, Allah ta’ala pun akan meminta pertanggungjawaban atas waktu yang telah diberikan selama di dunia ini.

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لا تزول قدما عبد يوم القيامة حتى يسأل عن عمره فيما أفناه، وعن علمه ما فعل به، وعن ماله من أين اكتسبه وفيما أنفقه، وعن جسمه فيما أبلاه

Tidak akan beranjak kaki seorang hambah para hari kiamat sampai ia ditanya tentang umurnya bagaimana ia habiskan, tentang ilmunya bagaimana ia amalkan, dan tentang hartanya darimana ia dapatkan dan bagaimana ia keluargakan, dan tentang tubuhnya bagaimana ia gunakan. (HR. Tarmidzi)

Karena itu, ia pun akan mengatur dan menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya sebagai amanah dari Allah ta’ala. Ia akan menjadikan waktunya sesuai dengan hak dari masing-masing bagian dalam hidupnya.

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda kepada Abdullah bin Amru bin Ash radiyallahu ‘anhu,

يا عبد الله: ألم أخبر أنك تصوم النهار وتقوم الليل ? قال: بلى يا رسول الله، قال: فلا تفعل، صم وأفطر وقم ونم، فإن لجسدك عليك حقًا، وإن لعينك عليك حقًا، وإن لزوجك عليك حقًا

Wahai Abdullah, aku mendapat kabar apakah benar engkau selalu berpuasa di siang hari dan sholat pada malam hari? Abdullah mengatakan, benar wahai rasulullah. Maka beliau bersabda, Jangan engkau lakukan, berpuasa dan berbukalah, sholat dan tidurlah. Sesungguhnya pada tubuhmu ada hak. Sungguh pada padamu ada haknya, dan pada istrimu juga ada haknya (HR. Bukhari)

Maka di sini terlihat bahwa dengan mengatur waktu yang baik, insyaAllah kita pun akan bisa memenuhi semuanya sesuai dengan hak mereka masing-masing. Inilah yang disebut dengan rasa syukur terhadap nikmat waktu dan dengannya kita tidak akan menyesal.

Semoga Allah ta’ala menjadikan kita termasuk di antara mereka yang mampu mensyukuri nikmat waktu ini. Aamin.

 

Trento, 24 Februari 2015

Akhukum Fillah, Gonda Yumitro

 

 

 

Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Meraih Sarjana Ilmu Politik (S.IP) dari Ilmu Hubungan Internasional UGM, M.A Political Science, Jamia Millia Islamia, dan M.A International Relations, Annamalai University, India. Menyelesaikan jenjang PhD Political Science dari International Islamic University Malaysia. Belajar agama dari beberapa ustadz ketika sedang studi di Yogyakarta, Malang dan India. Bekerja sebagai Professor di Prodi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang.

Leave a Response