Tanda Kebaikan Muslim

Seorang muslim perlu menyadari bahwa usia yang ia miliki sangat terbatas, sementara amalan kebaikan yang perlu ia lakukan sangat banyak. Karenanya, ia perlu memahami makna hidup sehingga bisa mengatur prioritas dari apa yang penting dan tidak dalam hidupnya.

Ia akan banyak fokus dengan perkara yang mendukung urusan dunia dan akhiratnya. Sementara hal-hal yang kurang bermanfaat, apalagi sampai pada kemaksiatan akan ia tinggalkan. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam,

من حسن إسلام المرء تركة ما لايعنيه

Di antara tanda kebaikan seorang muslim adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat (HR. Tarmidzi)

Para ulama dan ahli ilmu menjelaskan bahwa perkara ini merupakan salah satu masalah pokok dalam urusan adab. Yang ia tinggalkan dari hal yang tidak bermanfaat tadi mencakup berbagai aspek, baik ucapan, pandangan mau pun perbuatan.

Dalam perkara lisan, maka ia akan lebih banyak memilih untuk diam jika tidak menyampaikan ucapan yang baik. Diam adalah emas dibandingkan berucap tapi tanpa mengandung manfaat. Apalagi sekedar melayani perdebatan dari mereka yang tidak bermaksud mencari kebenaran.

Dalam hatinya, tertanam kuat keinginan untuk menjadi orang yang betul-betul beriman, sebagaimana sabda Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam,

من كان يؤمن بالله واليوم والآخر فليقل خيراً أو ليصمت

Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka ucapkanlah yang baik atau diam (HR. Muslim Muslim)

Ia menyakini bahwa setiap apapun yang ia lakukan dalam hidup ini, termasuk dari ucapannya, akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah ta’ala. Hal ini dikarenakan malaikat akan senantiasa mencatat setiap kata yang terucap dari lisan kita.

Allah ta’ala berfirman,

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌق

Tidaklah suatu terucap dari lisan, kecuali padanya ada raqib dan ‘atid (Q.S. Qaf: 18)

Baginya setiap waktu yang berlalu adalah kebaikan. Ia ingin menebar kebaikan pada siapapun dengan keterbatasan usia yang diberikan Allah ta’ala. Karena itu, dengan penuh kasih sayang ia memutuskan dirinya untuk meniti jalan dakwah.

Dengan dakwah, ia akan menabur kasih sayang. Dengan dakwah ia bisa berbagi dan menyelamatkan manusia menuju jalan Allah. Terhadap orang-orang yang jahil pun ada perasaan kasihan terhadap mereka, sehingga ia berupaya untuk memperbaiki keadaan. Ia tahu bahwa Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لا يؤمن أحدكم حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه

Tidak beriman salah seorang dari kalian, sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri (HR. Bukhari Muslim)

Cintanya pada saudara-saudara seiman. Mereka menjadi seperti bagian dari bangunan yang saling mengokohkan. Jika ada yang kurang dari saudaranya ia akan saling memperbaiki.

Tidak ada kesombongan dalam dirinya, kecuali semata-mata untuk mengikuti alquran dan hadits Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam. Ia menyadari bahwa dirinya pun masih punya banyak kekurangan, sehingga ia fokus untuk memperbaiki diri menjadi orang yang bertaqwa.

Allah ta’ala berfirman,

فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

Dan janganlah kalian mensucikan diri-diri kalian, sesungguhnya Allah maha mengetahui siapa yang bertaqwa (Q.S. An Najm: 32)

Kita berdoa kepada Allah ta’ala, semoga kita semua termasuk di antara orang-orang yang bertaqwa dan mampu menjauhkan diri kita dari perkara-perkara yang tidak bermanfaat. Aamin.

Malang, 30 November 2015

Akhukum Fillah, Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Meraih Sarjana Ilmu Politik (S.IP) dari Ilmu Hubungan Internasional UGM, M.A Political Science, Jamia Millia Islamia, dan M.A International Relations, Annamalai University, India. Menyelesaikan jenjang PhD Political Science dari International Islamic University Malaysia. Belajar agama dari beberapa ustadz ketika sedang studi di Yogyakarta, Malang dan India. Bekerja sebagai Professor di Prodi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang.

Leave a Response