Semangat Mengejar Akhirat

Di era ini, betapa banyak kita menemukan mereka yang sehari-harinya hanya sibuk untuk urusan dunia. Dari pagi sampai malam terkadang ia hanya mengurus perkara yang terkadang justru membuatnya semakin jauh dari Allah ta’ala.

Betapa banyak mereka yang karena kesibukan pekerjaan, bisnis, dan sejenisnya tidak lagi sempat menikmati indahnya ketaatan pada Allah ta’ala. Sholat mereka sudah jauh dari khusu’ dan tidak sedikit yang sudah meninggalkannya.

Demikian juga dengan Alquran dan hadits Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam yang seharusnya dijadikan sebagai panduan hidup, juga sudah mulai mereka tinggalkan. Mereka sudah lebih mencintai koran dan hardisk dibandingkan Al-Quran dan Hadits. Buktinya laptop, hape  dan koran begitu sering mereka buka dan baca jika dibandingkan dengan bacaan mereka terhadap Alquran dan Hadits.

Masih banyak indikator-indikator lainnya yang menunjukkan semangatnya sebagian orang dengan urusan dunia, tetapi mereka lemah dalam perkara akhirat. Mereka rela melakukan apa saja untuk mendapatkan kenikmatan sedikit di dunia ini bahkan dengan menempuh cara yang haram sekali pun, tetapi terlihat tidak semangat dalam mengejar akhirat.

Padahal jika ia mau merenung secara lebih dalam, maka sesungguhnya Allah ta’ala telah menjadikan dua negeri bagi kita yaitu negeri dunia dan negeri akhirat. Dunia adalah negeri tempat beramal sementara akhirat adalah tempat mendapatkan balasan dari semua apa yang telah kita lakukan. Dalam Alquran, dengan jelas Allah ta’ala berfirman,

بل توثرو ن الحياة الدنيا و الاخرة خير و ابقي

Tetapi kalian lebih mencintai dunia padahal akhirat jauh lebih baik dan kekal (Q.S. Al A’la: 16-17)

Dalam ayat yang lain, Allah juga berfirman,

قل متاع الدنيا قليل والآخرة خير لمن اتقى

Katakanlah sesungguhnya perhiasan dunia itu sedikit dan akhirat jauh lebih baik bagi mereka yang bertaqwa (Q.S. Annisa: 77)

Oleh karena itu, seorang muslim tidak boleh tertipu dan hendaknya menjadikan akhirat sebagai cita-cita dalam hidupnya. Siang dan malam yang ia pikirkan dan lakukan adalah upaya untuk mendapatkan kebaikan pada cita-citanya tadi. Dunia hanya sekedar alat untuk menuju akhirat dan tidak dijadikan sebagai tujuan akhir.

Baginya apa yang ada di dunia ini merupakan alat untuk mengejar akhirat, sehingga ia pun hanya mengambil seperlunya saja. Cita-cita terbesar dalam hidupnya adalah untuk akhirat, meskipun demikian tidak berarti ia melupakan urusannya di dunia. Allah ta’ala berfirman,

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

Dan kejarlah apa yang dikaruniakan Allah dari negeri akhirat dan jangan lupakan bagian kalian di dunia (Q.S. Al Qashos: 77)

Dari ayat ini terlihat bahwa bagi seorang mukmin perkara makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, pernikahan, dan seterusnya yang merupakan urusan dunia ini bukanlah perkara yang diharamkan selama tidak bertentangan dengan syariat Allah ta’ala.

Ia justru memahami bahwa pada setiap sesuatu dalam diri kita ada haknya. Pada diri kita ada hak, pada keluarga ada hak, pada masyarakat ada hak, pada segala sesuatu ada haknya. Namun demikian, ia akan meletakkan hak Allah lebih tinggi dari semua hak tadi.  Ketika bicara berbagai urusan dunia, maka ia menjadikannya sebagai alat untuk mengejar akhirat.

Jalan inilah yang telah ditempuh oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam. Beliau senantiasa memikirkan dakwah dan umatnya, berusaha supaya islam semakin tersebar dan agama ini tegak mengalahkan segala bentuk kekufuran.

Bahkan ketika dakwah beliau pun ditentang, maka Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam dengan rasa cintanya tetap meniti jalan ini. Ketika berdakwah di Thoif misalnya, beliau didustakan bahkan dilempari batu oleh penduduk negeri.

Sampai-sampai malaikat menawarkan untuk menghancurkan mereka dengan gunung atau melakukan apa saja yang diinginkan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam. Justru Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam mengatakan,

بل أرجو أن يخرج الله من أصلابهم من يعبد الله وحده لا يشرك به شيئاً

Namun aku berharap Allah akan mengeluarkan dari keturunan mereka orang-orang yang akan menyembah Allah semata dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun (HR.Bukhari)

Maka lihatlah bagaimana besarnya rasa cinta Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam untuk kebaikan umatnya. Betapa besar cita-cita beliau untuk akhirat dan tegaknya dakwah di tengah umat ini, dan tidak sedikit pun mengharapkan bagian dari dunia ini seperti harta, tahta, atau pun wanita dan lain sebagainya.

Bahkan perhatian beliau terhadap dakwah tetap terlihat sampai akhir hayat beliau shollallahu ‘alaihi wasallam. Di akhir hayatnya beliau tetap mengatakan, sholat, sholat, wanita, wanita, dan umatku umatku. Pikiran beliau senantiasa untuk urusan akhirat.

Adapun dalam perkara dunia, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مالي وللدنيا إنما أنا والدنيا كراكب استظل تحت شجرة ثم راح وتركها

Apa urusanku dengan dunia, sesungguhnya aku dengan dunia seperti seorang musafir yang berteduh di bawah sebatang pohon, kemudian beristirahat dan meninggalkannya (HR.Ibnu Majah)

Suatu ungkapan yang sangat menyentuh untuk menggambarkan dunia yang fana dan akan kita tinggalkan ini. Namun sayang, banyak mereka yang justru membangun rumah di bawah pohon tadi sampai matahari pun terbenam dan ia pun tidak sampai pada tujuan perjalanannya.

Zuhud, demikianlah istilah yang tepat untuk menggambarkan pilihan hidup Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam. Bukan karena beliau tidak bisa mendapatkan dunia, tetapi beliau lebih memilih untuk meninggalkan apa yang tidak atau kurang bermanfaat untuk urusan akhiratnya.

Suatu hari ada sahabat yang bertanya kepada Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam tentang perkara yang akan menyelamatkannya, dincintai oleh Allah dan manusia. Maka Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ازهد في الدنيا يحبك الله وازهد فيما أيدي الناس يحبوك

Zuhudlah di dunia maka Allah akan mencintaimu dan zuhudlah atas apa yang ada di tangan manusia maka mereka akan mencintaimu (HR. Ibnu Majah)

Yang perlu diingat bahwa zuhud ini adalah perkara niat untuk mengejar akhirat. Jadi bukan sekedar dari perkara penampilan. Boleh jadi mereka yang berpakaian compang camping tetapi tidak zuhud jika niat dan cara pandangnya yang salah. Demikian sebaliknya.

Karena itu, rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam menguatkan kita semua sebagai umat beliau untuk lebih bersemangat dalam mengejar perkara akhirat dan tidak perlu takut dengan urusan dunia ini. Beliau shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

من كانت الآخرة همه جعل الله غناه في قلبه وجمع له شمله وأتته الدنيا وهي راغمة، ومن كانت الدنيا همه جعل الله فقره بين عينيه وفرق عليه شمله ولم يأته من الدنيا إلا ما قدر له

Barang siapa yang menjadikan akhirat sebagai cita-citanya, maka diberikan kekayaan pada hatinya dan dikumpulkan semua urusannya dan datang dunia dalam keadaan menghinakan diri. Dan barang siapa yang dunia menjadi cita-citanya maka Allah jadikan kemiskinan di depan kedua matanya dan dicerai beraikan urusannya dan tidak akan datang bagian dari dunia kecuali apa yang telah ditakdirkan untuknya (HR. Tarmidzi)

Oleh karena itu, kita berdoa kepada Allah ta’ala semoga kita semua diberikan kemudahan dan kekuatan untuk menjadi orang-orang yang bersemangat dalam mengejar akhirat dan tidak tertipu dengan urusan dunia. Aamin.

Malang, 9 Desember 2015

Akhukum Fillah, Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Meraih Sarjana Ilmu Politik (S.IP) dari Ilmu Hubungan Internasional UGM, M.A Political Science, Jamia Millia Islamia, dan M.A International Relations, Annamalai University, India. Menyelesaikan jenjang PhD Political Science dari International Islamic University Malaysia. Belajar agama dari beberapa ustadz ketika sedang studi di Yogyakarta, Malang dan India. Bekerja sebagai Professor di Prodi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang.

Leave a Response