Abadi Bersama Tulisan

Ketika mengedit beberapa tulisan terdahulu, saya mengalami kesulitan. Perubahan bahasa yang saya gunakan cukup signifikan. Terutama berkaitan dengan kata yang berputar dan ide yang tidak jelas. Banyak potongan dibuang. Bahkan lebih sulit dari sekedar membuat tulisan baru. Beruntung selama ini eksistensi ide masih diperlukan.

Tidak ada yang salah memang. Siapapun yang sedang belajar akan menemukan hal baru. Penulis ternama pun tersenyum membaca catatan masa lalu. Jauh dari sempurna. Kadang hanya oretan penuh emosi. Analisa jangan ditanya.

Penulis pemula seringkali merasa bahwa ide yang dibangun sangat sempurna. Ia merasa sakit hati ketika tidak dihargai. Bagaimana mungkin misalnya, koran atau media cetak lain tidak memuat karyanya.

Kecurigaan bercampur kebanggaan muncul. Inilah saya yang idealis. Tetapi sayang media tidak punya keberanian cukup. Hanya masalah kebenaran.

Orang dewasa yang menemukan anak dalam keadaan demikian tidak boleh menjatuhkan. Ia harus tetap dihargai. Penyediaan sarana akselerasi rasionalitas berfikir diperlukan.

Anak dimotivasi untuk memperbanyak referensi. Objektifitas diperlukan. Ia bisa diterima kapan dan dimana pun. Untuk menyampaikannya harus dengan bahasa yang tepat.

Jika proses ini berhasil alamat kelahiran pemuda idealis datang. Ia tidak hanya berteriak, tetapi siap berdiskusi dengan gaya seilmiah mungkin. Tidak sekedar menuntut, melainkan siap dengan tawaran solusi.

Tergabung semangat dan rasionalitas. Pertanggungjawaban yang besar. Hanya dengan pemuda seperti ini perubahan dapat dilakukan.

Melihat realita dewasa ini cukup memperihatinkan. Kebodohan merajalela. Banyak orang bersembunyi dibalik perjuangan. Menuntut kedamaian tetapi mengacau. Menghendaki perubahan tetapi main emosi. Kekuatan dan kemuliaan ilmu semakin hilang.

Penulis – penulis muda yang bermunculan menjadi kebanggaan. Biasanya terdapat hubungan seimbang antara dunia tulis dan baca. Masyarakat akan maju. Pemikiran ilmiah dan ide – ide baru lahir.

Nyatanya tidak. Mereka menulis bukan karena idealisme. Hanya sejumlah uang dan ketenaran. Yang dilakukan bagaimana menulis yang diminati masyarakat saat itu. Jumlahnya pun sebanyak mungkin.

Secara ekonomi menguntungkan. Tetapi tidak lama kemudian mereka tenggelam. Kebenaran dan objektifitas lebih bertahan. Abadi.

Berbahaya ketika otentitas ide dihilangkan. Tuntutan masyarakat yang dijangkiti penyakit malas, membaca dan berfikir ilmiah membuat penulis sekedar merubah bahasa. Atau bahkan ada yang hampir sama persis dengan tulisan – tulisan orang lain.

Cukup mudah. Fasilitas diera sekarang tersebar luas. Akhirnya seorang yang mencari kebenaran melalui buku – buku baru tidak mendapatkan apa – apa. Tulisan yang tidak murni kehilangan makna dan ruh. Hanya sekedar permainan kata dan kosong.

Seorang yang sedang belajar menulis sewajarnya memahami persoalan ini. Catatan paling utama tentang ide. Tidak boleh satu pun dari ide dibiarkan hilang. Kekuatan dan daya tarik tulisan muncul. Bahasa dapat dipoles kemudian.

Kumpulan ide masa lalu sangat berharga dan menjadi keindahan. Banyak orang memerlukan. Kematangan pengalaman dengan proses panjang menghadirkan kesempurnaan. Bahasa pun menemukan pilihan.

Semoga tulisan – tulisan ini tidak kehilangan makna. Tulisan yang tetap dibaca dan dipelajari adalah usia panjang penulis. Meski pun telah tiada sesungguhnya kehidupan tetap berlangsung. Kehormatan bagi mereka. Menulis memperpajang usia. Ia hidup….(Yogyakarta, 15 juli 2005)

Leave a Response