Bahaya Adu Domba

“Betul teman, dia ternyata bilang kamu begitu dan begini”, ungkap seseorang yang seakan sedang membantu temannya yang dibongkar aibnya oleh orang lain.

“Terimakasih sudah diingatkan. Saya tidak mengira ternyata dia sejahat itu, padahal selama ini kelihatannya begitu baik di depan saya”, balas yang dilapori tidak kalah senang bahkan seakan merasa bersyukur.

Kondisi seperti gambaran kisah di atas mungkin seringkali kita temui dalam realita keseharian di zaman ini. Dengan mudah seseorang membuka aib orang lain di depan khalayak atau orang lainnya. Padahal sudah jelas bahwa berdasarkan dalil yang tegas dari Alquran dan sunnah, semua ulama dan kaum muslimin bersepakat bahwa mengadu domba ini termasuk dosa besar.

Dengan adu domba, maka manusia menjadi terpecah belah antara satu dengan lainnya, hati mereka terjauhkan. Bahkan cerita yang disampaikan pun sebenarnya sulit untuk diterima oleh akal dan telinga bagi mereka yang masih bersih hatinya.

Mereka yang suka adu domba, biasanya juga akan jatuh pada dosa tajassus, yaitu suka mencari aib orang lain. Tidak jarang dengan adu domba ini rezeki orang lain terputus, atau bahkan sampai terjadi pertumpahan darah.

Watak suka ado domba ini sebenarnya memang sudah menjadi warna dalam kehidupan manusia sejak dulu. Dari masa ke masa, orang yang punya sifat suka mengadu domba ini pun selalu ada. Seakan-akan ia merasa senang melihat orang lain berpecah belah antara satu dengan lainnya.

Pernah dikisahkan tentang seorang yang bertemu dengan budak yang diperjualbelikan. Maka ia pun tertarik karena sang budak yang tidak punya aib, kecuali padanya ada sikap suka mengadu domba. Pembeli ini pun mengabaikan kekurangan budak tadi dan merasa bahwa ia akan aman darinya.

Sampai akhirnya suatu hari sang budak menemui istri majikannya dan mengatakan,

إن زوجك لا يحبك وهو يريد أن يتسرى عليك، أفتريدين أن يعطف عليك؟

Sesungguhnya suamimu tidak lagi mencintaimu dan ia ingin mencari istri selain dirimu. Maka apakah engkau ingin menjaganya bersamamu?

قالت: نعم، قال لها: خذي الموس واحلقي شعرات من باطن لحيته إذا نام

Sang istri mengatakan, tentu saja. Sang budak pun berucap, ambillah pisau dan potonglah sebagian dari jenggot bagian bahwa suamimu ketika ia tidur.

Kemudian sang budak menemui majikan laki-lakinya dan mengatakan,

إن امرأتك اتخذت صاحبا وهي قاتلتك أتريد أن يتبين لك ذلك

Sesungguhnya istrimu telah mempunyai lelaki lain dan ia ingin membunuhmu (supaya bebas dengan lelaki lain tadi, red). Apa engkau ingin bukti atasnya?

قال: نعم، قال: فتناوم لها، فتناوم الرجل، فجاءت امرأته بالموس لتحلق الشعرات،

Sang suami mengatakan, tentu. Lantas budak pun mengatakan, “pura-puralah engkau tidur”. Kemudian laki-laki tadi pura-pura tidur sehingga datanglah istrinya dengan pisau untuk memotong jenggot suaminya.

فظن الزوج أنها تريد قتله، فأخذ منها الموس فقتلها،

Sang suami langsung mengira bahwa istrinya ingin membunuhnya (sebagaimana disampaikan sang budak, red), maka ia pun merebut pisau tadi dan membunuh istrinya.

فجاء أولياؤها فقتلوه، وجاء أولياء الرجل ووقع القتال بين الفريقين

Maka keluarga sang istri datang dan membunuh sang suami. Datang pula keluarga laki-laki dan sampai terjadi peperangan antara kedua belah pihak.

Dari kisah di atas maka bisa terlihat gambaran bahaya sifat suka mengadu domba. Jika antara suami istri yang sebenarnya mereka bisa dengan mudah bertabayun antara satu dengan lainnya ketika mendapatkan berita dari orang-orang fasiq tadi ternyata masih sering terpengaruh oleh mereka yang suka mengadu domba, maka bagaimana lagi dengan mereka yang komunikasi antara satu dengan lainnya tidak begitu baik?. Tentu mereka akan lebih sering lagi menjadi sasaran dari mereka orang-orang yang suka mengadu domba.

Oleh karena itu, Allah ta’ala telah memperingatkan kita agar terjauh dari sifat ini, sebagaimana firman-Nya,

وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَهِينٍ . هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بِنَمِيمٍ

Janganlah ikuti setiap yang suka bersumpah lagi ini, yang banyak mencelah dan berjalan untuk mengadu domba (Q.S.Al Qolam: 10-11)

Dalam ayat yang lain, Allah ta’ala juga memerintahkan kita untuk bertabayun ketika ada orang-orang fasik ini membawa berita. Allah ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا

Wahai orang-orang yang beriman, jika datang orang fasik pada kalian dengan suatu berita, maka tabayunlah (Q.S. Al Hujurat: 6)

Selain tidak akan disenangi oleh manusia yang ada di dunia, orang yang suka mengadu domba ketika sudah di dalam kubur akan mendapatkan siksa yang pedih. Diriwayatkan oleh Abdullah bin Abbas radiyallahu ‘anhuma bahwa,

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم مر بقبرين فقال إنهما يعذبان وما يعذبان في كبير ثم قال بلى كان أحدهما لا يستتر من بوله وكان الآخر يمشي بالنميمة

Sesungguhnya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam berjalan melewati dua kuburan, kemudian beliau bersabda, sesungguhnya kedua orang di kubur ini mendapatkan azab. Tidaklah mereka diazab karena perkara besar. Kemudian beliau mengatakan satu dari keduanya tidak bersuci dari buang air dan yang satu lagi karena suka berjalan untuk mengadu domba (HR. Bukhari Muslim)

Para ulama mengatakan bahwa makna bukan perkara besar adalah bahwa hal tersebut sebenarnya tidak berat untuk ditinggalkan. Namun karena hatinya yang sudah kotor, perkara tersebut pun menjadi berat dan bahkan menjadi kebiasaan.

Adapun ketika sudah di hari kiamat, dengan jelas Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam menyatakan bahwa yang bersangkutan tidak akan dimasukkan ke dalam surga, artinya ia akan dilemparkan ke neraka. Rasulullah shollallahu’alaihi wasallam bersabda,

لا يدخل الجنة النمام

Tidak akan masuk ke dalam surge orang yang suka mengadu domba (HR.Bukhari Muslim)

Bahkan dalam hadits yang lain, merka digambarkan sebagai sejelek-jelek manusia. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

تجد من شر الناس يوم القيامة، عند الله، ذا الوجهين الذي يأتي هؤلاء بوجه وهؤلاء بوجه

Kalian akan menemukan sejelek-jelek manusia pada hari kiamat di sisi Allah, yaitu seorang yang berwajah dua. Ia mendatangi suatu kelompok dengan wajah yang satu, dan mendatangi kelompok lainnya dengan wajah yang berbeda (HR. Bukhari)

Sebenarnya masih banyak penjelasan berkaitan dengan bahaya suka mengadu domba ini. Namun untuk sementara kami cukupkan sampai di sini dan menjadi renungan bagi kita agar hati-hati dari sifat ini.

Semoga Allah ta’ala menjauhkan kita semua dari sifat suka mengadu domba. Aamin.

 

Malang, 20 Januari 2015

Akhukum Fillah, Gonda Yumitro

 

Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Meraih Sarjana Ilmu Politik (S.IP) dari Ilmu Hubungan Internasional UGM, M.A Political Science, Jamia Millia Islamia, dan M.A International Relations, Annamalai University, India. Menyelesaikan jenjang PhD Political Science dari International Islamic University Malaysia. Belajar agama dari beberapa ustadz ketika sedang studi di Yogyakarta, Malang dan India. Bekerja sebagai Professor di Prodi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang.

Leave a Response