Bertakwa Dimanapun Berada

Pernah suatu ketika kami bertemu dengan seorang yang sama sekali tidak menunjukkan ciri ketakwaan dalam dirinya. Emosinya mudah tersulut, matanya dan mukanya memerah seperti kerasukan jin hanya karena satu persoalan duniawi yang dihadapinya. Ia sedang marah dengan seseorang yang ia belum ketahui siapakah gerangan dirinya.

Maka seketika ketika orang yang dinilai sumber masalah tadi datang dengan wajah senyum, permohonan maaf dan alasan yang kuat, orang ini pun tetap menunjukkan kemarahan dengan matanya yang melotot.

Namun perlahan terjadi komunikasi di antara mereka, ia pun mulai tahu siapa orang yang dihadapinya. Ia sebenarnya juga adalah seorang yang duduk di majelis taklim seperti dirinya. Bahkan orang yang dihadapinya tadi juga sebenarnya sudah mulai mengajarkan Alquran, sunnah dan kitab-kitab para ulama dalam berbagai taklim yang diasuhnya.

Mulailah wajah persahabatan pun nampak dalam dirinya. Ia yang awalnya sempat mengeluarkan kata-kata bak seorang preman mulai mengucapkan kata-kata santun yang menenangkan jiwa. Dialog pun terjadi dekat di antara mereka.

Maka dari kejadian ini, ada satu hal yang mengganjal dan kiranya perlu untuk kita renungan bersama, yaitu bagaimana makna ketakwaan yang selama ini kita pahami? Apakah ketakwaan hanya ditunjukkan ketika kita berada di lingkungan yang diangkap satu golongan, atau ketakwaan harus ada dalam setiap keadaan?

Kejadian ini bagi kami menunjukkan kebenaran risalah yang dibawa oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam. Dari Abu Dzar dan Mu’adz bin Jabbal, beliau shollallahu ‘alaihi wasallam suatu hari pernah bersabda,

اتق الله حيثما كنت واتبع السيئة الحسنة تمحها وخالق الناس بخلق حسن

Bertakwalah kepada Allah dimana pun kalian berada, dan ikutlah kejelekan dengan kebaikan yang akan menghapuskannya, dan berakhlaklah kepada manusia dengan sebaik-baik akhlak (HR. Tarmidzi)

Hadits di atas menunjukkan bagaimana pentingnya ketakwaan kepada Allah ta’ala bagi seorang muslim yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Di mana pun dan kapan pun ia berada, maka hendaknya dirinya senantiasa menunjukkan akhlak yang mulia.

Bahkan betapa banyak orang lain yang akan menjadi dekat dan bisa menerima hidayah melalui perantara kita jika kita bisa menunjukkan akhlak yang baik sebagai seorang muslim yang bertakwa. Karena sungguh dalam ketakwaan terdapat keindahan.

Mereka yang bertakwa kepada Allah ta’ala, digambarkan oleh Tholaq bin Habib bahwa ia akan senantiasa melakukan ketaatan hanya karena mengharapkan balasan dari Allah ta’ala. Ia pun akan meninggalkan semua kemaksiatan dan akhlak yang jelek karena takut akan siksa dari Allah ta’ala.

Jadi bagi dirinya bukan manusia yang dijadikan ukuran. Bukan dengan siapa ia berhadapan, atau bukan dimana ia sedang berada. Muncul keyakinan dari diri bahwa Allah ta’ala tidak pernah tidur dan akan mengawasi setiap amalan dari seorang hamba. Jika pun ada yang mendholiminya, maka ia pun percaya bahwa Allah mampu melakukan sebaik-baik perhitungan.

Sehingga wajar jika Umar bin Abdul Aziz juga menyatakan bahwa ketakwaan tidaklah berarti hanya sekedar berpuasa pada siang hari dan sholat pada malam hari. Namun takwa itu adalah meninggalkan semua kemaksiatan kepada Allah ta’ala dan semua hal jelek yang sebenarnya bisa ia lakukan.

Inilah makna takwa yang sebenarnya. Takwa yang selalu menjadi wasiat dari rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat terhadap sahabat lainnya. Takwa yang senantiasa dimohon oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam akan dikaruniakan Allah ta’ala kepadanya.

Dalam suatu hadits, rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أسألك خشيتك في الغيب والشهادة

Aku memohon kepada-Mu ketakutan pada-Mu (takwa) dalam ketaatan tersembunyi atau pun nampak (HR. Nasa’i)

Jika rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam saja memohon ketakwaan kepada Allah ta’ala, maka kita tentu lebih membutuhkannya. Dan hadits ini juga menunjukkan bagaimana pentingnya nilai takwa bagi seorang mukmin. Takwa yang merupakan bukti sempurnanya keimanan seorang muslim.

Oleh karena itu, kita memohon kepada Allah ta’ala semoga kita semua diberikan ketakwaan oleh Allah ta’ala dimana pun kita berada. Dan semoga sahabat kita yang tadi berbuat baik betul-betul karena ketakwaannya, bukan sekedar karena mengetahui pada siapa yang berhadapan.

Mudah-mudahan yang bersangkutan termasuk di antara orang-orang yang mengikuti kejelekannya dengan kebaikan, sehingga dosa-dosanya pun di ampuni oleh Allah ta’ala sebagaimana firman-Nya,

إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ

Sesungguhnya kebaikan itu menghapuskan kejelekan (Q.S. Hudd:114)

Aamin.

Malang, 27 Februari 2015

Akhukum Fillah, Gonda Yumitro

 

 

 

Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Meraih Sarjana Ilmu Politik (S.IP) dari Ilmu Hubungan Internasional UGM, M.A Political Science, Jamia Millia Islamia, dan M.A International Relations, Annamalai University, India. Menyelesaikan jenjang PhD Political Science dari International Islamic University Malaysia. Belajar agama dari beberapa ustadz ketika sedang studi di Yogyakarta, Malang dan India. Bekerja sebagai Professor di Prodi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang.

Leave a Response