Menulis merupakan dunia yang unik. Dengan menulis orang dapat hidup abadi. Tetapi bagi sebagian yang lain menulis menyiksa diri. Sunyi. Penulis hanyalah mereka yang dapat menikmati hidup apa adanya. Tanpa kekayaan berlimpah.
Meski mereka mampu. Menulis hanya dengan keinginan untuk memberi. Tidak ada orang miskin yang dapat memberi. Hanya ide. Pertentangan pun berlangsung. Pilihan hidup masing – masing pribadi.
Seorang penulis ternama pernah mengatakan bahwa ia tidak menjadikan menulis sebagai sumber penghasilan melainkan sebagai bagian upaya pemenuhan kebutuhan jiwa.
Menulis mengekspresikan diri secara bebas dan lebih baik. Dengan menulis, nilai kemanfaatan ide dapat terjaga. Ruang lingkup objek yang dapat dijangkau juga lebih luas.
Tidak orang baca sekarang bukan masalah. Yang penting bahwa semua catatan adalah kebenaran dan kejujurann dengan tidak menyembunyikan satu apapun.
Hal ini telah dibuktikan oleh banyak tokoh terdahulu. Karena kecintaan kepada kebenaran mereka merelakan dirinya untuk berkorban. Rela menghabiskan waktu untuk kebaikan bersama.
Tidak bersenang – senang melainkan mencari solusi berbagai permasalahan umat. Sangat cinta kepada mereka dan tidak menginginkan keadaan kurang baik terus berlangsung.
Diperlukan perubahan yang lebih baik. Kerja keras dan keikhlasan niat. Apa yang dilakukan tidak untuk kepentingan pribadi. Jika keadaan ini tidak terkendali, kecelakaan begitu dekat. Akan muncul penyesalan.
Hampir sama dengan kondisi tersebut, saya tidak sepakat hidup dengan menulis dalam pemaknaan materi. Menulis bukan untuk mencari uang, tetapi alat menuangkan idealisme.
Apabila alasan ekonomi dijadikan sebagai fokus dalam kepenulisan, ide – ide yang dituangkan tidak lagi menunjukkan kejujuran dan keefektifan sebuah tulisan. Banyak pertimbangan yang menjadi kebohongan. Oleh siapapun.
Jasa untuk seorang penulis merupakan kewajaran, bahkan keharusan. Akan tetapi tidak dijadikan tujuan. Tidak boleh ada pemaksaan baik ketika memulai maupun ketika telah berada di puncak.
Ide – ide tidak bermutu harus disingkirkan. Penulis adalah mereka yang tetap berusaha melakukan yang terbaik. Latihan terus menerus membentuk mereka dengan ciri tertentu. Tulisan pun menjadi semakin bermutu.
Seorang penulis cukup terkenal yang saya kenal telah menghabiskan banyak waktunya untuk menulis. Telah merasakan sekian kali ditolak. Tulisan tidak dimuat. Kurang tidur bahkan terserang penyakit.
Keuletan kemudian membuat ia cukup kuat hingga terkenal. Semakin banyak orang yang mengkonsumsi tulisan beliau. Dan ia pun telah merasa menulis sebagai karakter diri yang tidak dapat dipisahkan. Tanpa menulis seakan ada yang kurang.
Demikian kehidupan orang – orang yang mempunyai komitmen. Menulis menjadi pilihan. Hidup dengan menulis. Sayangnya tidak banyak orang yang dapat bertahan. Banyak penulis pemula begitu cepat menyerah. Setelah beberapa kali tulisannya tidak diterima kegiatan menulis terhenti.
Ada juga yang sama sekali tidak menyukai dunia ini. Berfikir dan menuangkan ide bukan pekerjaan mudah. Wajar saja. Semua orang mempunyai pilihan hidup masing – masing.
Apapun yang dijalani memerlukan internalisasi nilai. Melakukan sesuatu bukan untuk sesuatu tetapi karena sesuatu itu sendiri. Menulis bukan untuk sesuatu, materi, popularitas, dan kepentingan duniawi lainnya. Tetapi menulis karena memang harus menulis. Menulis karena adanya kebenaran yang harus disampaikan.
Hanya mereka dengan prinsip ini yang dapat bertahan menulis. Tidak persoalan dunia ini dikenal sepi. Tetapi ia kaya. Jiwanya tenang. Ialah yang akan dapat hidup dengan menulis.
(Bandung, 29 Juni 2005)

