Menjaga Kejujuran

Berdasarkan hadis yang dijelaskan pada artikel sebelumnya, selain yang berhati mulia manusia terbaik adalah mereka yang lisannya selalu jujur. Mereka adalah orang-orang yang berusaha menyampaikan sesuatu apa adanya tanpa kebohongan.

Dalam hal ini, jelas kejujuran merupakan modal penting bagi kehidupan seseorang, apalagi di era seperti sekarang ini. Terkadang kita kesulitan untuk mencari mereka yang betul-betul menjaga kejujuran. Padahal Allah ta’ala dengan tegas memerintahkan kita untuk berteman dengan orang-orang yang jujur.

Allah ta’ala berfirman,

يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وكونوا مع الصادقين

Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah bersama orang-orang yang jujur (Q.S. Attaubah: 119)

Dengan memiliki teman yang jujur maka kita akan aman dari tipu daya mereka. Demikian juga teman yang jujur akan melatih kita untuk meniru perilaku mereka. Dengan kejujuran ini, niscaya Allah ta’ala akan menunjukkan kita kepada kebaikan dan surge.

Dari Abdullah bin Mas’ud, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إن الصدق يهدى إلى البر، وإن البر يهدى إلى الجنة، وإن الرجل ليصدق حتى يكتب عند الله صديقاً، وإن الكذب يهدى إلى الفجور، وإن الفجور يهدى إلى النار، وإن الرجل ليكذب حتى يكتب عند الله كذاباً

Sesungguhnya kejujuran menunjukkan pada kebaikan dan kebaikan menunjukkan pada surga. Sesungguhnya seseorang senantiasa berusaha untuk jujur niscaya Allah akan mencatatnya sebagai seorang yang jujur. Dan kebohongan menunjukkan pada kejelekan dan kejelekan menunjukkan pada neraka. Seseorang senantiasa dalam keadaan bohong sampai Allah pun mencatatnya sebagai pendusta (HR. Bukhari Muslim)

Dari hadits di atas terlihat bahwa selain mempunyai teman yang baik, maka kita perlu berjuang untuk senantiasa dalam keadaan jujur, meski sulit sekali pun. Jangan sampai karena satu kali kebohongan yang kita lakukan, Allah pun mencatat kita sebagai pendusta.

Pernah dikisahkan tentang seseorang yang senantiasa jujur dan tidak pernah sekali pun berbohong. Ia mempunyai dua orang anak yang dibenci oleh Hajjaj, seorang raja yang lalim pada waktu itu. Hajjaj pun mencari keduanya tetapi tidak kunjung bertemu.

Sampai akhirnya ada yang mengatakan wahai Hajjaj, sesungguhnya bapak keduanya merupakan seorang yang tidak pernah berbohong sedikit pun, maka kenapa tidak engkau utus orang yang akan menanyakan keberadaan mereka pada bapaknya.

Subhanallah, ketika ditanyakan kepada sang bapak, dimana kedua anakmu?, maka sang bapak pun mengatakan bahwa kedua anaknya ada di rumah. Hajjaj pun terkejut, dan bertanya mengapa engkau melakukan ini (menyampaikan apa adanya) padahal engkau tahu bahwa aku ingin membunuh mereka berdua?

Sang bapak pun mengatakan bahwa aku khawatir jika berbohong maka Allah akan mencatatku sebagai seorang pembohong. Hajjaj pun mengatakan maka sungguh aku memaafkan kedua anakmu karena kejujuranmu.

Demikianlah kisah seorang yang sholeh dan senantiasa menjaga kejujuran dalam keadaan sulit sekali pun. Tentu berbeda dengan kebanyakan orang sekarang, yang jangankan ada yang datang untuk membunuh anaknya, ketika ada yang menagih utang saja maka ia pun rela berbohong. Allahu musta’an.

Dari kisah ini pula para ulama berpandangan bahwa makna kejujuran yang sesungguhnya adalah أن تصدق في موطن لا ينجيك منه إلا الكذب (engkau tetap dalam keadaan jujur dalam keadaan ketika keselamatan seakan hanya muncul jika berbohong).

Inilah kejujuran yang dimiliki oleh Kaab bin Malik ketika ia mengatakan apa adanya ada ketidakikut sertaannya dalam perang tabuk meskipun akhirnya harus mendapatkan ujian berat dari Allah ta’ala. Tanpa keimanan dan keyakinan bahwa Allah ta’ala akan memberikan hikmah terbaik dan kebaikan bagi mereka yang jujur, tentu sifat ini sulit untuk dijaga.

Meskipun demikian tentu dalam perkara kejujuran tidak boleh ada hal-hal yang justru menjatuhkan kita pada ghibah, namimah, dan sejenisnya. Sepantasnya bagi seorang mukmin untuk menjaga aib saudaranya akan tidak menjadi konsumsi publik

Kita memohon kepada Allah ta’ala, semoga kita semua termasuk di antara orang-orang yang kuat dan istiqomah dalam kejujuran. Aamin.

 

Malang, 24 April 2015

Akhukum Fillah, Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Meraih Sarjana Ilmu Politik (S.IP) dari Ilmu Hubungan Internasional UGM, M.A Political Science, Jamia Millia Islamia, dan M.A International Relations, Annamalai University, India. Menyelesaikan jenjang PhD Political Science dari International Islamic University Malaysia. Belajar agama dari beberapa ustadz ketika sedang studi di Yogyakarta, Malang dan India. Bekerja sebagai Professor di Prodi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang.

Leave a Response