Menulis kebenaran

Ketukan hati dengan tulisan – tulisan singkat adalah penghias jiwa. Tetapi tidak mungkin selamanya manusia hidup dalam dunia ini. Ia harus berpikir tentang perubahan. Tidak sebatas menggugah semangat, tetapi pikiran – pikiran besar.

Sangat banyak orang yang bisa membuat hati bergetar. Tetapi tidak berapa lama kemudian semua hilang. Orang – orang masih bingung tentang apa yang harus mereka lakukan. Referensi untuk bergerak melakukan perubahan sangat minim.

Sudah saatnya para penulis agar tidak hanya memikirkan pilihan kata yang tersusun rapi dan menggugah. Kebermaknaan menjadi lebih penting. Ini masalah dan bagaimana diselesaikan.

Menulis akhirnya tidak sebatas menggerakkan jari tetapi juga perlu merenung, meneliti, dan membaca sebanyak mungkin pikiran dan referensi sebelumnya.

Lahirnya para penulis muda adalah prestasi luar biasa. Tetapi mereka tidak dapat dibiarkan lahir begitu saja. Berbahaya. Idealisme tertinggal dan ekonomi menguasai. Tidak sedikit penulis yang hanya berfikir bagaimana mendapatkan uang.

Bukan persoalan tulisan kurang bermakna atau bahkan menjiplak pemikiran orang lain. Realita memang masyarakat kita terlalu suka dengan hal – hal ringan. Tulisan berisi dianggap memusingkan.

Adalah pilihan untuk menentukan apa saja yang akan dilakukan dalam kehidupan seseorang. Tetapi hubungan dengan orang lain dan kepahaman terhadap kehidupan yang sebentar patut menjadi pertimbangan.

Tidak pantas seorang penulis “ menipu “ pembacanya dengan tulisan yang sama sekali tidak bernilai. Sekali pun banyak yang membaca. Lebih baik kehilangan orang yang mendengarkan dari pada tercatat sebagai pembohong besar.

Seorang penulis adalah mereka yang namanya akan dapat bertahan lama. Ia akan hidup selama tulisannya masih di baca orang. Kebenaran dari masa ke masa tidak akan pernah berubah.

Dan kenyataan secara fitrah manusia menginginkan kebenaran. Sekali pun mereka dalam kehancuran. Ada kalanya hati terbuka dan air mata berurai.

Tidak akan pernah rugi mereka yang menulis sesuatu apa adanya. Bahkan dengan kedalaman ilmu. Suatu saat, kapan pun, seratus tahun atau lebih kemudian orang – orang akan menyaksikannya sebagai orang besar.

Berfikir jauh kedepan. Ia hidup kembali ketika jasadnya telah lama terkubur. Banyak bukti tentang para penulis yang sampai sekarang karya mereka masih dipakai.

Berbeda dengan tulisan – tulisan picisan. Tanpa ilmu dan tidak memberikan hal baru terhadap pemahaman pembaca. Dalam satu seketika tulisannya dibaca banyak orang, tetapi tidak bertahan lama.

Penipuan membosankan. Tulisan tersebut kehilangan daya tarik. Orang – orang meninggalkannya. Dan penulis tercatat sebagai pengambil keuntungan sesaat. Sulit hidup di masa depan.

Maka apa yang dicari oleh para penulis, kebenaran tetap harus dinomersatukan. Tidak pantas menghancurkan masa depan hanya karena sejumlah uang.

Apalagi dengan kehilangan kepuasan dan kebermaknaan. Menulis harus dengan kekuatan niat untuk perubahan yang lebih baik.

Bandung, 9 juli 2005

Leave a Response