Jika saya perhatikan beberapa tulisan Harun Yahya dan beberapa karya penulis lainnya, maka dalam konteks masyarakat sekarang, tulisan yang bisa menjangkau banyak orang adalah tulisan yang singkat dan padat, sehingga dapat dibaca sambil lalu.
Jikapun harus disatukan dalam bentuk buku, maka tetap dibuat dalam sub-sub judul yang pendek. Bahkan dengan variasi. Jika tulisannya panjang, justru biasanya sering diidentifikasikan sebagai analisis persoalan mendalam. Biasanya dibaca oleh orang-orang yang konsen dalam satu bidang tertentu.
Cara menulis seperti yang singkat dan padat tidak hanya memudahkan pembaca dengan sasaran yang lebih luas, tetapi juga bagi penulis sendiri. Ada banyak tulisan yang tidak dapat diselesaikan dalam waktu singkat karena pembahasan yang kompleks.
Berbagai data dan analisis dengan penalaran mendalam. Terkadang seorang penulis juga mempunyai idealisme yang kuat, sehingga masa demi masa ia mengumpulkan ide tanpa sempat menyelesaikannya sebagai satu kesatuan tulisan jadi.
Niat awal sangat bagus yaitu untuk menjaga diri dari kesalahan berfikir. Namun jika diperhatikan lebih lanjut, terkadang tidak ada perubahan signifikan dari setiap pembahasan setelah beberapa tahun kemudian.
Justru terkadang menjadi ketinggalan momentum yang tepat. Sejarah pribadi tidak lagi dapat menjiwai dengan emosi setiap kata yang dirangkai. Kecuali pada beberapa tulisan yang menjadi konsentrasinya, atau berulang.
Berdasarkan keadaan ini, maka seorang penulis paling tidak mampu memetakan sekaligus menyusun strategi bagaimana ia harus menulis. Setiap ide yang muncul harus ditangkap, dianalisis, atau mungkin disimpan dulu adalah keharusan. Namun ia seharusnya mampu memilah mana tulisan yang harus segera diselesaikan atau membutuhkan analisa dan penelitian lanjut.
Secara teknis, maka lebih mudah, terutama bagi para pemula dalam dunia tulis menulis untuk menyelesaikan setiap ide yang muncul dalam satu tulisan lengkap. Berapa pun yang mampu maka diakhiri. Pemutusan terhadap ide terkadang merubah alur, meskipun pada beberapa keadaan terkadang menghadirkan ide-ide segar.
Jikapun ternyata tulisan tersebut untuk dipublikasikan, tidak seharusnya menunggu wartawan datang ke rumah. Ia harus proaktif memberanikan diri mengirimkan setiap tulisan.
Tentunya dengan tetap memetakan jenis, karakter, brand, bahkan penggunaan kata pada masing-masing media. Meskipun demikian, terkadang pilihan dengan karakter yang lebih mandiri, tetapi harus mengangkat dan menggambarkan ide dengan benar-benar menarik tetap menjadi pertimbangan tersendiri.
Adapun latar belakang pendidikan dan konsentrasi pekerjaan kita, juga sangat menentukan dipublikasikan atau tidaknya sebuah karya. Asumsi sederhana bahwa seseorang akan lebih paham bahkan mampu menjadi ahli pada bidang yang dia tekuni. Pemahaman terhadap bidang lain tidak lebih dari sekedar pengenalan umum saja.
Meskipun demikian, selain mempublikasikan melalui media massa, di era ini blog merupakan sarana efektif untuk berbagi. Satu hal yang perlu dikuatkan dalam hati bahwa menulis bukan sekedar urusan materi, tetapi masalah idealisme dan kebermaknaan hidup. Jika suatu saat kita telah tiada, maka paling tidak ada sedikit peran yang bisa kita berikan untuk perbaikan peradaban manusia.
Jangan lupa juga untuk senantiasa mengoreksi kembali tulisan kita terutama dalam hal makna kebenaran yang ada pada setiap kalimat yang terurai. Jika perlu, setiap tulisan yang diselesaikan bisa didiskusikan dengan teman melalui berbagai media untuk mendapatkan penilaian. Meskipun tidak mutlak sepenuhnya benar, paling tidak tanggapan teman merupakan gambaran respon pembaca yang lain.
Karakter yang sedikit berbeda untuk tulisan ilmiah adalah dengan tetap mengumpulkan ide apapun yang muncul, menulisnya, dalam bahasa sesederhana apapun. Kemudian disempurnakan pelan-pelan. Justru ketergesaan akan berakibat fatal dalam mempertanggungjawabkan keilmiahana tulisan.
Apapun yang kita lakukan, dan sebagus apapun teori yang dikuasi tidak akan berarti tanpa mencoba mempraktekkan. Yakinlah bahwa practice make you perfect. Selamat mencoba!.
(Malang, 10 Januari 2008)


Tulisannya bermanfaat. Saran2nya boleh dicoba. Tapi terkadang kehabisan ide juga mau nulis apa.