Menyibukkan Diri Dengan Ketaatan

Lebih dari 10 tahun yang lalu sebelum meninggal, pernah suatu hari kami bertanya kepada kakek, “Kek, kiranya kakek berkenan bercerita tentang masih kecil dan muda kakek”. Tiba-tiba wajah sepuh kakek berubah, dan beliau menangis.

Kemudian kakek mengatakan, “sungguh pengalaman masa kecil dan muda kakek seakan masih di depan mata. Waktu begitu cepat berlalu dan usia kakek sudah senja. Saatnya untuk lebih khusu’ dan fokus menyiapkan diri untuk pertemuan agung”

Demikianlah yang kakek sampaikan beberapa bulan sebelum beliau meninggal. Kami tidak pernah mengira jika ternyata itu adalah pertemuan terakhir karena kami segera kembali ke Jogja untuk keperluan studi.

Bahkan segenap anggota keluarga, tidak ada satu pun yang sempat bertemu dengan kakek pada waktu beliau meninggal. Begitu mudah sebagaimana cita-cita yang selalu beliau impikan.

Ketika ada salah seorang tetangga yang meninggal saat melaksanakan sholat subuh dan bersujud, kakek pun berharap, “masyaAllah kematian yang begitu indah!” begitu ucap beliau. Akhirnya qadarallah wal hamdulillah, kakek pun meninggal setelah melaksanakan sholat ashar.

Demikianlah hakikat waktu, ia berjalan begitu cepat. Sebuah pelajaran sangat berharga yang saya dapatkan dari kakek.

Bukan hanya kakek sebenarnya yang merasa hal ini, tetapi kita semua. Masih terbayang dengan jelas kenangan waktu kecil, kini kita sudah tumbuh menjadi sosok dewasa. Bahkan tidak sedikit yang sudah menjadi orang tua, atau bahkan kakek dan nenek bagi cucu-cucunya.

Oleh karena itu, hendaknya setiap muslim menyempatkan diri untuk melakukan muhasabah atas kehidupan yang telah dijalaninya. Dengan sekian usia yang telah Allah ta’ala karuniakan kepada kita, maka lihatlah apa yang sudah kita lakukan sebagai bentuk ketaatan kepada Allah ta’ala?

Apa yang sudah kita siapkan untuk mempertanggungjawabkan amal kita pada hari yang tidak ada lagi waktu beramal kecuali hanya penghisaban dan pembalasan. Saat itu, tidak ada yang bisa kita harapkan kecuali kasih sayang dan rahmat dari Allah ta’ala semata.

Selagi masih punya kesempatan, kiranya perlu kita merengungi ayat Allah ta’ala,

الَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ

Apakah belum tiba waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk khusu’ hati mereka mengingat Allah dan apa yang telah diturunkan dari kebenaran dan janganlah menjadi seperti mereka yang telah diberikan kitab sebelum mereka (Q.S. Al Hadid: 16)

Melalui ayat ini, Allah ta’ala ta’ala mengingatkan kita untuk sadar dari kelalaian yang selama ini kita lakukan. Betapa banyak mereka yang karena urusan dunia, akhirnya tidak lagi bisa merasakan nikmatnya berdzikir kepada Allah ta’ala.

Betapa banyak di antara mereka yang sudah menyadari kekeliruannya, tetapi kondisinya juga tidak banyak berubah. Pernah ingin menghafal alquran, ternyata setahun berlalu tidak bertambah hafalannya. Pernah ingin belajar Islam, waktu berlalu ilmunya pun tetap sama.

Seakan karena kesibukan dunia, waktu berlalu begitu cepat. Padahal dengan jelas Allah ta’ala sebenarnya menggambarkan bahwa waktu kita ini amat juga jika digunakan untuk mengingat Allah. Untuk menyibukkan diri kita hanya pada ketaatan semata. Allah ta’ala berfirman,

أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُم مَّا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَن تَذَكَّرَ وَجَاءكُمُ النَّذِيرُ

Bukankah kami telah memanjangkan umurmu untuk berfikir bagi yang mau berfikir dan telah datang kepada kalian pemberi peringatan (Fathir: 37)

Orang-orang terdahulu, utamanya umat nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam juga mempunyai waktu yang lebih kurang sama dengan kita. Namun kenapa banyak di antara salaful ummah, mereka berhasil meninggalkan karya-karya spektakuler untuk membela Islam dengan segala keterbatasannya, tetapi kita bahkan belum bisa membanggakan apa-apa. Padahal katanya kita hidup di zaman yang serba modern.

Maka sekaranglah waktu yang tepat bagi kita untuk berubah. Menyesali semua kekurangan diri dan mempersiapkan hari esok yang jauh lebih baik. Jangan sampai setelah mendapatkan kebenaran kita kembali mengikuti jalan-jalan yang sesat dan dimurkai Allah ta’ala. Allah ta’ala berfirman,

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

Barang siapa yang menentang Rasul setelah jelas padanya petunjuk dan mengikuti selain jalan orang-orang beriman, maka akan Kami sesatkan mereka di atas kesesatan yang telah ia lakukan dan kami sediakan jahannam sebagai sejelek-jelek tempat kembali (Q.S. Annisa: 115)

Sebagai orang yang beriman, yang perlu kita lakukan adalah senantiasa mengikuti petunjuk yang Allah ta’ala dan Rasul-Nya sampaikan pada kita. Karakter ini Allah ta’ala gambarkan dalam ayat-Nya,

الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُولَئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ

Yaitu mereka orang-orang yang mendengarkan ucapan dan mengikuti yang terbaik, merekalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk Allah dan merekalah orang-orang yang berfikir (Q.S. Azzumar: 18)

Terhadap perkara-perkara yang tidak menguntungkan bagi akhirat kita, maka hendaknya kita segera meninggalkannya. Waktu yang ada akan segera meninggalkan kita dan berjalan cepat sementara kesempatan yang ada hanya terbatas dan amal yang perlu kita lakukan sangatlah banyak.

Makanya seorang yang muslim akan memanfaatkan waktunya yang tersisa dengan sebaik mungkin. Ia sibuk dengan ketaatan dan tidak punya kesempatan untuk melakukan hal yang sia-sia dan kurang bermanfaat. Gambaran mereka digambarkan dalam hadits Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam,

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ

Di antara tanda kebaikan keislaman seseorang yaitu meninggalkan apa yang tidak bermanfaat padanya (HR. Tirmidzi)

Kita berdoa kepada Allah ta’ala, semoga kita semua termasuk di antara orang-orang yang senantiasa sibuk dengan ketaatan. Aamin.

 

Kanjuruhan Asri, Malang, 28 Desember 2015

Akhukum Fillah, Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Meraih Sarjana Ilmu Politik (S.IP) dari Ilmu Hubungan Internasional UGM, M.A Political Science, Jamia Millia Islamia, dan M.A International Relations, Annamalai University, India. Menyelesaikan jenjang PhD Political Science dari International Islamic University Malaysia. Belajar agama dari beberapa ustadz ketika sedang studi di Yogyakarta, Malang dan India. Bekerja sebagai Professor di Prodi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang.

Leave a Response