Pentingnya Keikhlasan Dalam Hidup

“Apa bisa kita makan ikhlas?”

“Mana bisa hanya bicara ikhlas terus…sementara kita butuh hidup”

Demikian terkadang ucapan-ucapan serupa kita dengar. Seakan keikhlasan menghambat kehidupan di era ini. Keikhlasan menjadi barang langkah dan sulit diimplementasikan di zaman materialisme yang kita merebak di tengah masyarakat.

Padahal keikhlasan sangat dibutuhkan dalam hidup. Tanpa ikhlas, maka semua yang kita lakukan akan terasa berat dan tidak bernilai di sisi Allah ta’ala.

Para ulama mengatakan, makna ikhlas adalah melakukan semua amalan kita hanya untuk mendekatkan diri kepada Allah ta’ala. Dimana ketika seseorang sudah ikhlas, maka ia akan meninggalkan pandangan manusia.

Apapun yang dinilai oleh manusia, selama hal tersebut membuat Allah ridho akan ia lakukan. Demikian sebaliknya, ia tidak akan melakukan sesuatu yang disukai oleh manusia tetapi mengundang kemurkaan Allah Allah ta’ala.

Seorang mukmin menyadari bahwa hakikat hidupnya adalah semata-mata untuk beribadah kepada Allah ta’ala dan mengikhlaskan diri ini sepenuhnya untuk Allah ta’ala. Hal ini sesuai dengan firman Allah ta’ala,

وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ

Dan tidaklah kalian diperintahkan kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan sepenuhnya hanya untuk agama Allah (Al Baiyyinah: 5)

Dalam ayat yang lain Allah ta’ala juga berfirman,

فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحاً وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَداً

Barang siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Rabbnya maka hendaknya beramal sholeh dan tidak mensekutukan Rabb dengan sesuatu yang lain (Q.S. Al Kahfi: 110)

Dari Abi Amamah radiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan seseorang mendatangi Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, kemudian ia mengatakan,

يا رسول الله أرأيت رجلاً غزا يلتمس الأجر والذكر ما له؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: لا شيء له فأعادها عليه ثلاث مرات يقول له رسول الله صلى الله عليه وسلم: لا شيء له ثم قال: إن الله لا يقبل من العمل إلا ما كان له خالصًا وابتغي به وجهه”

Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang seseorang berperang tetapi bercampur niatnya untuk balasan dan diingat, maka apa yang ia dapatkan?. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ia tidak mendapatkan apa-apa. Beliau mengulanginya sampai tiga kali. Kemudian beliau mengatakan, sesungguhnya Allah tidak menerima suatu amalan kecuali amalan itu ikhlas dan hanya mencari wajah Allah semata (HR. Nasa’i)

Dalam hadits yang lain, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ثلاثٌ لا يغلّ عليهن قلب امرئ مؤمن: إخلاصُ العمل لله، والمناصحةُ لأئمة المسلمين، ولزومُ جماعتهم

Tiga golongan yang tidak ada dendam (karena adanya pada) hati seorang mukmin, keikhlasan kepada Allah, memberikan nasehat kepada para pemimpin muslim, dan berpegang pada jama’ah (HR. Tarmidzi)

Orang yang ikhlas juga akan selamat dari godaan syaithan. Dimana kita mengetahui bahwa syaithan telah mengumandangkan permusuhan ini sejak nenek moyang kita nabiyullah Adam ‘alaihissalam. Pada waktu itu iblis berjanji ingin menyesatkan semua manusia anak keturunan nabi cucuk anab. Mereka yang selamat hanyalah orang-orang yang ikhlas. Allah ta’ala berfirman,

إِلاَّ عِبَادَكَ مِنْهُمْ الْمُخْلَصِينَ

Kecuali hambamu yang mereka termasuk dari orang-orang yang ikhlas (Q.S. Alhajr: 40)

Cara pertama yang akan dilakukan adalah dengan membuat manusia melakukan kesyirikan dan tidak mau beribadah kepada Allah ta’ala. Jika pun mereka ternyata masih beribadah kepada Allah ta’ala, maka syaithan akan merusak amalan tadi dengan menghilangkan keikhlasan dalam jiwa.

Makanya ketika pernah ditanyakan kepada seorang ulama,

أي شيءٍ أشدّ على النفس؟ قال: الإخلاص؛ إذ ليس لها فيه نصيب

Apakah perkara yang paling berat bagi jiwa? ia mengatakan ikhlas, jika padanya tidak ada bagian.

Ayyub pernah mengatakan,

تخليصُ النيّات على العُمّال أشد عليهم من جميع الأعمال

Mengikhlaskan niat pada amal lebih berat daripada keseluruhan amal.

Memang ikhlas ini merupakan hal berat, apalagi secara fitrah pada diri manusia sudah dihiasi kecintaan terhadap syahwat wanita, anak-anak, perhiasan dari ternak, emas, perang dan ladang. Menumbuh sikap ikhlas ini perlu perjuangan dan kesungguhan.

Di antara ulama lain mengatakan,

إخلاص ساعةٍ نجاةُ الأبد ولكنّ الإخلاصَ عزيز

Ikhlas sesaat adalah kesuksesan selamanya, tetapi ikhlas itu berat

Dalam kisah diceritakan bahwa ada seseorang yang senantiasa sholat pada shof yang pertama, kemudian suatu hari ia sholat pada shof yang kedua. Maka muncul perasaan malu dalam dirinya karena sholat pada shof yang kedua. Hal ini akhirnya membuat ia menyadari bahwa ternyata sholatnya pada shof yang pertama selama ini dikarenakan pandangan manusia.

Kita berdoa kepada Allah ta’ala, semoga kita semua termasuk di antara mereka yang mampu beramal dengan ikhlas. Aamin.

Malang, 11 Desember 2015

Akhukum Fillah, Gonda Yumitro

 

Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Meraih Sarjana Ilmu Politik (S.IP) dari Ilmu Hubungan Internasional UGM, M.A Political Science, Jamia Millia Islamia, dan M.A International Relations, Annamalai University, India. Menyelesaikan jenjang PhD Political Science dari International Islamic University Malaysia. Belajar agama dari beberapa ustadz ketika sedang studi di Yogyakarta, Malang dan India. Bekerja sebagai Professor di Prodi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang.

Leave a Response