Bahaya Sifat Pemarah

Di tengah kehidupan yang semakin sibuk bahkan materialistis sekarang ini, banyak orang yang susah mengendalikan emosi. Terkadang amarah pun memuncak.

Bagi para pekerja dimana mereka dituntut menyelesaikan seabreg agenda, tetapi terkadang tuntutan hidup yang layak juga belum bisa terpenuhi dengan baik, tidak jarang memunculkan amarah. Demikian juga dengan para pimpinan yang melihat bawahannya tidak melakukan dengan baik apa yang menjadi kewajibannya, terkadang kemarahan seakan menjadi sarana untuk menunjukkan kewibawaannya.

Kondisi pun bertambah pelik dikarenakan kesibukan dunia yang digelutinya membuat ia jarang berinteraksi dengan ilmu-ilmu Islam, termasuk dalam merutinkan amalan-amalan sunnah, disamping ibadah wajib tentunya.

Padahal, insyaAllah dengan semakin memahami Islam, maka ia akan mengerti larangan Islam terhadap sifat pemarah dan bagaimana jeleknya sifat ini. Dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu, seseorang datang menemui Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam kemudian mengatakan,

أوصني. قال: لا تغضب فردد مرارا قال: لا تغضب

Berikan nasehat kepadaku wahai Rasulullah, kemudian beliau mengatakan, jangan marah, dan beliau mengulanginya beberapa kali. Jangan marah. (HR. Bukhari)

Menurut para ulama, hadits ini sangat penting dan berkaitan erat dengan masalah akhlak dan pensucian jiwa. Dimana dijelaskan bahwa makna hadits ini paling tidak di antaranya adalah bahwa kita disyariatkan untuk membiasakan diri meminta nasehat kepada orang yang berilmu atau mempunyai keutamaan dalam berbagai persoalan yang kita hadapi.

Dan kondisi inilah yang telah dilakukan oleh para sahabat radiyallahu ‘anhum terhadap Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasalam. Dimana beliau shollallahu ‘alaihi wasallam pun ketika mendapatkan pertanyaan dari para sahabat, akan menjawab sesuai dengan keadaan siapa yang bertanya, tetapi jawabannya tetap berlaku umum untuk setiap umatnya.

Dalam hadist ini, Rasulullah sholallahu a’alaihi wasalam mengerti bagaimana psikologi dari sahabat tadi sehingga beliau shollallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk tidak marah. Tentu dalam hal-hal yang tidak syar’i. Adapun kemarahan untuk membela agama ini mungkin karena ada anggota keluarga yang tidak sholat, tidak berhijab, atau ada yang menginjak-nginjak syariat agama ini (dengan cara yang benar) justru diperlukan.

Larang tadi berlaku untuk kemarahan karena urusan pribadi, bukan agama, apalagi disampaikan dengan cara yang jelek, akan menyebabkan berbagai kejelekan. Ja’far bin Muhammad radiyallahu ‘anhu mengatakan, الغضب مفتاح كل شر (kemarahan adalah pintu semua kejelekan). Demikian juga dengan Ibnu Mubarak ketika ditanya اجمع لنا حسن الخلق (kumpulkanlah pada kami sebaik-baik akhlak, maka beliau rahimahullah mengatakan ترك الغضب (engkau meninggalkan kemarahan).

Para ulama menyatakan bahwa jeleknya kemarahan akan mengeluarkan manusia dari sifat kemanusiaan. Seorang yang pemarah bukan hanya wataknya saja yang bekerja, tetapi juga akan diikuti oleh lisan yang tidak baik, memukul, atau bahkan mengeluarkan dirinya dari akal yang rasional. Bahkan tidak sedikit mereka menyesal ketika telah melampiaskan kemarahannya.

Pernah seseorang datang kepada Abdullah bin Abbas radiyallahu ‘anhu, kemudian berkata,

إني طلقت امرأتي ثلاثا وأنا غضبان فقال: إن ابن عباس لا يستطيع أن يحل لك ما حرم الله عليك عصيت ربك وحرمت عليك امرأتك

Aku telah mentalak istriku tiga kali, dan saat itu saya marah. Maka Ibnu Abbas mengatakan, sungguh Ibnu Abbas tidak bisa menghalalkan apa yang telah diharamkan Allah padamu. Kamu telah mengundang kemurkaan Rabbmu dan telah diharamkan bagimu istrimu. (HR. Sunan Daruquthni)

Maka meskipun para ulama berbeda pendapat dalam perkara tholaq ketika sedang dalam keadaan marah apa sah atau tidak, maka jika mengikuti pendapat Ibnu Abbas hukumnya adalah sah. Wallahu a’lam.

Adapun mereka yang bisa menjaga dirinya dari sifat amarah, maka insyaAllah akan hal ini akan menjadi jalan baginya untuk masuk ke dalam sorga. Diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa pernah seseorang mendatangi Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian berkata,

دلَّنِي على عمل يدخلني الْجنَّة قَالَ لَا تغْضب وَلَك الْجنَّة

Tunjukkan aku suatu amalan yang akan memasukkanku ke dalam sorga. Rasulullah berkata, jangan marah maka bagimu sorga (HR.Tabrani)

Dengan banyaknya kejelekan dari sifat pemarah ini dan utamanya kedudukan mereka yang mampu menahan amarahnya, Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam sering berdoa,

اللهم إني أسألك كلمة الحق في الغضب والرضا

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kalimat yang haqq pada saat marah maupun ridho. (HR. Ahmad)

Semoga kita semua diberikan kekuatan oleh Allah ta’ala untuk menahan emosi kita, tidak mudah marah, dan bersikap lembut terhadap sesama. Aamiin.

Malang, 11 Januari 2014
Akhukum Fillah

Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Meraih Sarjana Ilmu Politik (S.IP) dari Ilmu Hubungan Internasional UGM, M.A Political Science, Jamia Millia Islamia, dan M.A International Relations, Annamalai University, India. Menyelesaikan jenjang PhD Political Science dari International Islamic University Malaysia. Belajar agama dari beberapa ustadz ketika sedang studi di Yogyakarta, Malang dan India. Bekerja sebagai Professor di Prodi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang.

Leave a Response