Perzinahan merupakan suatu dosa yang besar. Akibatnya pun bisa merusak tatanan moral bahkan struktur sosial dalam masyarakat. Bahkan Allah pun akan memberikan balasan kepada pelakunya, tidak hanya di dunia ini, tetapi juga nanti ketika di akhirat. Karenanya Allah ta’ala mewanti-wanti kita jangankah melakukan perzinahan, mendekatinya saja tidak boleh.
Allah ta’ala berfirman,
وَلا تَقْرَبُوا الزِّنَى إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلا
Dan janganlah mendekati zina, sesungguhnya perzinahan itu adalah kemungkaran dan sejelek-jelek jalan (Q.S.Al Isra’:32)
Bagaimana tidak jelek, sementara ketika seseorang melakukan perzinahan, maka rusaklah nasab dari anak yang dilahirkan akibat perzinahan tadi. Jika pun tidak mempunyai anak, maka perzinahan juga akan melahirkan penyakit sosial.
Seorang yang pernah melakukan perzinahan maka akan ada dorongan untuk kembali melakukan hal serupa. Dan terasa berat baginya untuk melawan perasaan tersebut kecuali betul-betul dengan keimanan dan ketakwaan kepada Allah ta’ala.
Tidak jarang karena ingin memuaskan gejolak syahwatnya, ia pun melakukan berbagai dosa lainnya. Lihatlah betapa banyak korupsi, kebohongan, bahkan pembunuhan yang terjadi karena perzinahan.
Belum lagi dilihat dari sudut pandang keimanan. Seorang yang melakukan perzinahan, pada saat berzina sebenarnya keluar keimanan dari dirinya. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
لا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلا يَشْرَبُ الْخَمْرَ حِينَ يَشْرَبُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلا يَسْرِقُ حِينَ يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ
Tidaklah seorang berzina ketika ia berzina sementara ia dalam keadaan beriman, dan tidaklah seorang meminum khamar ketika meminum khamar sementara ia dalam keadaan beriman, dan tidaklah seorang mencuri ketika ia mencuri sementara ia dalam keadaan beriman (HR. Bukhari)
Imam Ahmad rahimahullah bahkan mengatakan لا أعلم بعد القتل ذنباً أعظم من الزنى (aku tidak mengetahui setelah pembunuhan dosa yang lebih besar daripada perzinahan).
Dalam suatu hadits yang disampaikan oleh Abdullah bin Mas’ud, suatu hari beliau bertanya kepada Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam,
يا رسول الله أي الذنب أعظم ؟ قال : أن تجعل لله ندّاً وهو خلقك ، قال : قلت : ثم أي ؟ قال : أن تقتل ولدك مخافة أن يطعم معك ، قال : قلت : ثم أي ؟ قال : أن تزني بحليلة جارك
Wahai Rasulullah, apakah dosa yang paling besar, maka Rasulullah mengatakan, engkau menjadikan sekutu bagi Allah sementara Allah yang telah menciptakanmu. Kemudian aku mengatakan, kemudian apalagi? Rasulullah menjawab, engkau membunuh anakmu karena takut memberi makan bersamamu. Kemudian aku bertanya, kemudian apalagi? Rasullah menjawab, engkau berzina dengan istri tetanggamu (HR. Bukhari Muslim)
Hal ini senanda dengan firman Allah ta’ala,
والذين لا يدعون مع الله إلها آخر ولا يقتلون النفس التي حرم الله إلا بالحق ولا يزنون … الآية
Dan orang yang tidak menyeru bersama Allah sesuatu yang lain, dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan cara yang haqq dan tidak berzina …(Q.S. Al Furqon: 68)
Maka dari ini terlihat jelas bahwa begitu besarnya perkara perzinahan ini. Bahkan Allah ta’ala pun meletakkan dosa perzinahan ini bersamaan dengan dosa syirik dan pembunuhan.
Masyarakat yang membiarkan perzinahan merajalela berkembang di sekitarnya, maka bersiaplah untuk merasakan murka dan azab dari Allah ta’ala. Pelan-pelan akan datang bencana yang tidak diduga-duga atau berbagai penyakit yang sebelumnya tidak pernah terjadi.
Belum lagi berbagai kesulitan lainnya yang akan ditimpakan Allah ta’ala ketika mereka sudah di akhirat nanti. Allah ta’ala akan memberikan kepada mereka siksaan yang berat.
Dalam kitab zabur dijelaskan bahwa mereka yang berzina maka nanti ia akan dipukul dengan besi pada kemaluannya sampai melonglong kesakitan dan akan ditanyakan padanya, dimana tawa yang dulu kalian miliki tanpa merasa diawasi oleh Allah ta’ala?
Demikianlah akibat yang akan Allah timpakan kepada mereka yang telah kehilangan kehormatan agamanya, orang yang sudah rusak rasa malunya, orang yang tidak lagi muncul rasa diawasi oleh Allah ta’ala, dan orang yang telah kehilangan keimanan dalam hatinya.
Oleh karena itu, kiranya kita perlu sangat waspada dengan dosa ini. Tidak hanya memperhatikan keluarga kita, tetapi juga dengan bersemangat berdakwah di tengah masyarakat. Jangan biarkan mereka melakukan kedholiman dan dosa yang akan berdampak negatif bagi kita semua.
Semoga kita semua diberikan kekuatan untuk melakukan hal ini, dan terhindar dari semua sarana menuju perzinahan sebagaimana yang banyak berkembang di era ini. Aamin.
Trento, 13 Februari 2015
Akhukum Fillah, Gonda Yumitro

