Fitnah Dunia

Tidak jarang diri kita dikuasai nafsu. Tanpa kedekatan dengan Allah sebagai satu-satunya tempat mengadukan setiap persoalan, hidup pun goyah. Banyak manusia tidak tahan dengan gemerlap dunia yang selalu menghibur dan membayangi hidup. Bayangan tentang keindahan dalam kekayaan yang melimpah, istri yang cantik, kendaraan dan rumah yang mewah, jabatan yang dipuji, dan berbagai hiasan dunia lainnya, membuat mereka lupa dengan Allah. Mereka bisa mencapai yang mereka inginkan, bisa juga tidak. Yang pasti, hatinya kosong.

Keindahan yang selalu mereka cari dan berfikir akan bahagia ketika memilikinya, menipu saja. Pada posisi ketika banyak manusia menilai ia sedang sukses, hatinya menjerit. Dalam jeritan ini dua jalan menanti, bisa kearah keselamatan, atau semakin sesat bersama nafsu.

Mereka yang benar memilih jalan, terlihat dari banyaknya sekarang anak-anak orang kaya kemudian beralih dengan pola hidup begitu sederhana dan pemurah. Mereka juga dengan tekun belajar memahami Islam. Bahkan terkadang semangat yang mereka miliki, jauh dari orang-orang yang lebih dahulu memahami jalan benar.

Tidak heran ketika seorang putri yang saya kenal dulunya adalah pemain band anak muda, kemudian berubah drastis. Jangankah untuk bersama laki-laki sampai malam, memandang bahkan memikirkannya saja tidak berani. Pakaian juga sekarang tertutup rapi. Atau seorang adik kelas saya yang berasal dari keluarga sangat kaya, tiba-tiba meninggalkan kuliahnya di UGM, padahal tinggal menyelesaikan skripsi saja.

Merekalah orang-orang yang begitu tulus hatinya mencari hidayah Allah. Jiwanya penuh dengan cinta, dan mulai merasakan jijik dengan manusia yang meninggalkan syariat Allah demi meraih dunia. Tentunya masalah ini tidak dipahami secara saklak.

Sebaliknya, ada pula orang-orang yang karena tidak tahan merasakan derita dan fitnah dunia yang begitu mencekam, akhirnya lari ke perbuatan-perbuatan yang justru semakin membahayakan diri dan agamanya. Tidak sedikit mereka dengan kemampuannya kemudian jatuh pada pergaulan bebas, narkoba, dan sejenisnya. Hari-harinya hanya untuk berhura-hura. Mereka kehilangan makna hidup. Justru ketika semakin jatuh mereka kepada kepada kemaksiatan, hati pun semakin menjerit. Mereka bagaikan minum es di tengah terik matahari. Bukan mengobati dahaga, tetapi justru membuat semakin haus.

Sungguh dahaga nafsu tidak akan pernah membuat manusia puas.
Oleh karena itu, sudah saatnya bagi mereka yang punya nurani merenungi masalah ini. Hidup yang singkat tidak seharusnya dihabiskan untuk amalan yang sia-sia. Setiap detik yang berlalu harus menghasilkan amal produktif. Alangkah sedihnya hati jika suatu saat nanti ketika kita menghadap kepada Allah ternyata tidak ada amal sholeh yang bisa menyelamatkan. Tentu penyesalan tidak berarti lagi.

Fitnah dunia begitu banyak bentuknya. Bahkan dalam posisi apapun, ia senantiasa mengintai manusia. Ketika melakukan amal kebaikan muncul riya’, ketika berda’wah tidak diiringi dengan amal. Ketika miskin tidak bisa bersabar, dan ketika kaya tidak bisa mensyukuri. Manusia jarang yang mampu mengukur sesuatu dari luar dirinya. Oleh karena itu, hanya sedikit yang bisa selamat.

Seorang yang menginginkan pertemuan agung dengan Allah, dan menerima sorga sebagai balasan amal kebaikannya tentu harus berlari menuju Allah. Tanpa pikir panjang, tanpa harus berfilsafat. Karena kebenaran dalam keterbatasan waktunya bukan lagi untuk dicari tapi untuk diamalkan.

Sungguh, mereka yang demikian, dengan kesungguhan dan keikhlasan untuk menafkahkan semua hidupnya di jalan Allah akan merasakan kesenangan dan ketenangan baik di dunia maupun akhirat. “mereka orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, tidak ada padanya ketakutan dan kesedihan”.

1 Comment

Leave a Response