Keimanan dan Pengendalian Hawa Nafsu

Keimanan adalah modal yang sangat penting untuk menjalani kehidupan kita baik di dunia maupun di akhirat nanti. Tanpa keimanan yang kuat, maka hidup ini tidak akan terarah, dan semuanya bisa menjadi susah.

Seorang yang berbuat kebaikan jika bukan karena keimanan maka ia bisa jadi akan banyak kecewa. Seorang yang berbuat kemaksiatan tanpa keimanan akan terus bergelimang dengan dosa. Oleh karena itu keimanan menjadi mutlak diperlukan pada diri seorang hamba.

Sayangnya tidak semua orang menjadi hamba yang beriman. Bahkan seorang muslim pun belum dijamin bahwa ia termasuk di antara orang-orang yang beriman. Dalam keimanan diperlukan keselarasan pada semua aspek baik dalam hati, lisan maupun perbuatan.

Mereka orang-orang yang beriman akan menjadikan sepenuh hidupnya hanya untuk mencari keridhoan Allah ta’ala. Karenanya ia akan berusaha sekuat mungkin supaya tidak sekedar memperturutkan hawa nafsu semata. Ia akan hati-hati dalam berbuat supaya tidak menyesal dikemudian hari.

Seorang yang beriman akan menjadikan Alquran dan hadits Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam sebagai panduan hidupnya. Tidak sekedar menjadikan perasaan dan pikiran sebagai modal beragama. Dalam dirinya tertanam kuat pemahaman yang mendalam terhadap hadits Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau bersabda,

لا يؤمن أحدكم حتى يكون هواه تبعا لما جئت به

Tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (Diriwayatkan Ibnu Abi ‘Ashim dalam kitab Sunnah)

Dalam setiap perbuatannya maka ia akan menimbang apakah yang ia lakukan sesuai dengan hukum Allah dan Rasul-Nya atau tidak. Jika sesuai maka ia akan melakukannya, adapun jika tidak maka ia akan meninggalkannya.

Ia tahu bahwa kebanyakan dari hawa nafsu akan menyesatkan manusia jika tidak dalam tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Bahkan hawa nafsu tadi tidak jarang membuat orang jatuh kepada kekafiran dan kesyirikan.

Seorang yang mengikuti hawa nafsunya terkadang mereka menjadi lupa dengan Allah ta’ala. Ia  menjadikan hawa nafsunya lebih dicintai dan didahulukan dari mencari keridhoan Dzat yang telah menciptakannya.

Inilah makna dari firman Allah ta’ala,

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ

Apakah engkau tidak melihat orang yang mengambil hawa nafsunya sebagai tuhan? (Q.S. Al Jatsiyah: 23)

Dalam ayat yan lain Allah menggambarkan bahwa mereka itu adalah orang-orang yang وَاتَّبَعُوا أَهْوَاءَهُمْ (mengikuti hawa nafsu mereka – Q.S. Muhammad:14). Mereka yang karena hawa nafsunya tidak lagi takut kepada Allah ta’ala.

Karena perbuatan inilah maka hakikat orang yang mengikuti hawa nafsunya digambarkan oleh Allah ta’ala sebagai orang-orang yang sedang berbuat kerusakan. Berbuat kerusakan untuk dirinya yang menyebabkan hatinya menjadi gelap dan sulit menerima cahaya kebenaran.

Dan juga ia berbuat kerusakan bagi masyarakat dan alam semesta. Dengan hawa nafsunya ia akan lebih banyak berfikir untuk dirinya sendiri dan mulai kehilangan empati sosial. Ia mulai sulit untuk berfikir agar bisa memberikan kemanfaatan sebanyak mungkin kepada orang lain.

Namun sayang mereka seringkali tidak merasa, melainkan justru mengira kalau dirinya sedang berbuat kebaikan. Namun Allah ta’ala membantah prasangka mereka dengan firman-Nya,

أَلا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ

Sungguh mereka itu berbuat kerusakan (Q.S. Al Bakaroh: 12)

Merekalah orang-orang yang nanti akan merasakan kerugian yang besar dari semua apa yang telah mereka lakukan. Ia sudah capek beramal dan berbuat, tetapi semua yang ia lakukan tidak ada nilainya di sisi Allah ta’ala.

Allah ta’ala berfirman,

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا * الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

Katakanlah, maukan kalian kami beritakan tentang serugi-rugi orang dengan amalannya. Mereka adalah orang-orang yang berbuat kerusakan dalam kehidupan dunia ini dan ia mengira jika dirinya sedang berbuat kebaikan (Q.S. Al Kahfi: 103-104)

Mereka adalah orang-orang yang digambarkan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam sebagai orang yang merugi karena hanya mengikuti hawa nafsunya. Dari Syidad bin ‘Aus, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الكيس من دان نفسه وعمل لما بعد الموت، والعاجز من أتبع نفسه هواها، وتمنى على الله

Orang yang beruntung adalah mereka yang mengendalikan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian, adapun orang yang merugi adalah mereka yang mengikuti hafa nafsunya, dan tidak berharap pada Allah.

Abu Darda’ radiyallahu’anhu berkata,

إذا أصبح الرجل اجتمع هواه وعمله وعلمه، فإن كان عمله تبعاً لهواه فيومه يوم سوء، وإن كان عمله تبعاً لعلمه فيومه يوم صالح

Jika datang waktu pagi pada seseorang, maka berkumpullah hawa nafsu, amal dan ilmu. Jika amalnya mengikuti hawa nafsunya, maka hari itu adalah hari yang jelek baginya, dan jika amalnya mengikuti ilmunya maka hari itu adalah hari yang sholeh baginya.

Untuk itu, kita berdoa kepada Allah ta’ala semoga kita diberikan kesempurnaan iman dan mampu mengendalikan hawa nafsu kita hanya untuk ketaatan kepada Allah ta’ala semata. Aamin.

 

Trento, 22 Februari 2015

Akhukum Fillah, Gonda Yumitro

 

 

Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Meraih Sarjana Ilmu Politik (S.IP) dari Ilmu Hubungan Internasional UGM, M.A Political Science, Jamia Millia Islamia, dan M.A International Relations, Annamalai University, India. Menyelesaikan jenjang PhD Political Science dari International Islamic University Malaysia. Belajar agama dari beberapa ustadz ketika sedang studi di Yogyakarta, Malang dan India. Bekerja sebagai Professor di Prodi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang.

Leave a Response