Alangkah indahnya kehidupan ahli tauhid. Mereka mendapatkan janji dengan ganjaran yang begitu besar dari Allah subhanahu wat’ala, baik kebahagiaan hidup di dunia maupun keselamat di akhirat. Sayang belum semua orang mengetahui atau benar benar merasakan urgensi tauhid ini dalam kehidupan harian mereka. Buktinya, berbagai perbuatan kesyirikan begitu banyak bisa kita temui di tengah masyarakat muslim sekali pun.
Jika kita cermati, maka banyak dalil Alquran maupun hadits yang menunjukkan keutamaan ahli tauhid. Di antaranya,
من كان آخر كلامه لا إله إلا الله دخل الجنة
Barang siapa yang akhir ucapannya adalah tidak ada Rabb (yang haqq disembah) kecuali Allah maka pasti masuk sorga. (Hadits riwayat Hakim dengan sanad Shohih.)
Dalam hadits lain rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
من مات لا يشرك بالله شيئاً دخل الجنة
Barang siapa yang meninggal dalam keadaan tidak mensekutukan Allah sedikit pun, maka akan dimasukkan ke dalam sorga (HR. Bukhari Muslim).
Berkata Abu Dzar, meskipun mereka pernah berzina atau pun pernah mencuri (setelah bertaubat pent). Abu Isa mengatakan bahwa para ahli tauhid akan masuk ke dalam sorga, jika pun harus masuk ke dalam neraka, hal tersebut karena dosa mereka. Akan tetapi mereka tidak akan kekal di dalamnya.
Hal ini juga sesuai dengan hadits nabi shollallahu ‘alaihi wasallam ketika suatu hari beliau pernah ditanya oleh Jabir bin Abdillah radiyallahu ‘anhu,
إن الله يخرج قوما من النار بالشفاعة ؟ قال : فقال : نعم
Sesungguhnya Allah mengeluarkan suatu kaum dari neraka dengan syafa’at (benarkah)?. Rasulullah menjawab, ya.(HR. Bukhari dan Muslim)
Mereka yang mendapatkan syafa’at ini adalah di antara umat nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam yang melakukan dosa-dosa besar, tetapi kalimat tauhid tetap terpatri dalam jiwa mereka. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wassalam bersabda,
يخرج من النار من قال لا إله إلا الله
Dikeluarkan dari neraka barang siapa yang mengatakan tidak ada Tuhan (yang haqq) disembah kecuali Allah. (diriwayatkan oleh Annas Bin Malik).
Dalam lafadz yang lain disebutkan,
سيخرج قوم من ِالنِار من اهل التوحدويدخلون الجنه
Akan dikeluarkan suatu kamu dari neraka dari ahli tauhid dan akan dimasukan ke dalam sorga (riwayat Abdullah bin Mas’ud)
Ada pun berkaitan dengan keutamaan mereka di dunia, rasulullah shollallahu ‘alaihi wassalam bersabda,
من قال لا إله إلا الله، وكفر بما يُعبد من دون الله، حرم ماله ودمه، وحسابه على الله
Barang siapa yang mengucapkan tidak ada Tuhan (yang haqq disembah) kecuali Allah, dan ia mengingkari segala bentuk penyembahan kepada selain Allah, maka diharamkan harta dan darahnya, dan perhitungannya atas Allah. (HR. Muslim)
Dalam kitab Fathul Madjid disebutkan bahwa kalimat tauhid ini tidak hanya sekedar ucapan lisan, tetapi perlu dibenarkan oleh hati dan ditunjukkan dengan perbuatan yang jauh dari kesyirikan dan amalan yang penuh dengan keikhlasan. Atau dengan kata lain, tauhid perlu didasari oleh ilmu, keimanan, keyakinan dan keikhlasan. Hal ini sebagaimana hadits rasulullah shollallahu ‘alaihi wassalam,
من مات وهو يعلم أنه لا إله إلا الله دخل الجنة
Barang siapa yang mati dan ia mengetahui bahwa tidak ada Tuhan (yang haqq) disembah kecuali Allah, maka dimasukkan ke dalam sorga (HR. Muslim)
Dan hadits,
فإن الله حرم على النار من قال لا إله إلا الله يبتغي بذلك وجه الله
Dan sesungguhnya Allah mengharamkan atas mereka neraka, barang siapa yang mengatakan tidak ada Tuhan (yang haqq) disembah kecuali Allah yang dengannya ia mencari wajah Allah (HR. Bukhari Muslim)
Adapun bukti bahwa kalimat tauhid ini perlu ditunjukkan dengan amal perbuatan nyata, terlihat dalam ayat,
فلا وربك لا يؤمنون حتى يحكموك فيما شجر بينهم ثم لا يجدوا في أنفسهم حرجاً مما قضيت ويسلموا تسليماً
Dan tidaklah beriman kalian sampai engkau berhukum atas apa yang diturunkan di antara kalian, kemudian ia tidak menemukan dalam dirinya kesulitan atas apa yang ditetapkan oleh Allah, dan mereka berislam dengan sebenarnya (Q.S. Annisa: 65)
Semua ini akan menjadi lebih mudah terwujud jika saja terdapat rasa cinta yang kuat kepada Allah, rasul-Nya dan para ahli tauhid, sebagaimana hadits rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam,
من أحب لله، وأبغض لله، وأعطى لله، ومنع لله، فقد استكمل الإيمان
Barang siapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, taat karena Allah, dan mencegah karena Allah, maka sungguh yang demikian itu adalah kesempurnaan iman (HR. Bukhari Muslim)
Hal ini juga senada dengan ayat Allah,
والذين آمنوا أشد حباً لله
Dan mereka orang-orang yang beriman, sangat besar rasa cintanya kepada Allah.(Q.S Al baqarah: 165).
Semoga kita semua bisa istiqomah di atas jalan tauhid yang lurus.
——
Delhi, 1 Juli 2012
