Meraih Penjagaan Allah

Pada tulisan sebelumnya kami telah membahas bagaimana kita menjaga agama Allah ta’ala. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tarmidzi tersebut juga dijanjikan bahwa siapa mereka yang sudah menjaga Allah, maka niscaya Allah pun akan menjaganya. Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam,

احفظ الله يحفظك

Jagalah Allah, maka Allah pun akan menjagamu (HR. Tarmidzi)

Maka pada kesempatan ini kami akan membahas bagaimana penjagaan Allah terhadap seorang hamba. Penjagaan dalam arti perlindungan yang akan Allah ta’ala berikan kepada mereka yang telah menjaga perjanjiannya dengan Allah ta’ala. Yaitu mereka yang telah memberikan hak-hak Allah dengan senantiasa menjaga tauhid dan ketaatan kepada-Nya.

Dalam hal ini, maka kaidah فَإِنَّ الْجَزَاءَ مِنْ جِنْسِ الْعَمَلِ (sesungguhnya balasan sesuai dengan jenis amal) berlaku. Allah ta’ala dengan kasih sayang-Nya akan memberikan balasan terhadap apa yang dilakukan oleh seorang hamba.

Ketika ada seorang hamba yang banyak mengingat Allah ta’ala, maka niscaya Allah pun akan banyak mengingatnya. Demikian juga dengan mereka yang banyak menghabiskan waktunya untuk membantu agama Allah, maka niscaya Allah pun akan banyak membantunya. Hal ini sesuai dengan firman Allah ta’ala,

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ

Ingatlah Aku, maka Aku pun akan mengingatmu (Q.S. Al Baqarah: 152)

Dalam ayat yang lain Allah ta’ala berfirman,

إِنَّ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ

Jika kamu menolong agama Allah maka niscaya Allah akan menolongmu (Q.S. Muhammad: 7)

Ibnu Rajab menyatakan bahwa mereka yang telah menjaga Allah, maka Allah pun akan menjaga kebaikan bagiaya baik dalam perkara dunia, badannya, anak-anak, keluarga dan hartanya. Di samping tentu Allah ta’ala pun akan menguatkan dirinya untuk senantiasa dalam keistiqomahan.

Hal ini sesuai dengan firman Allah ta’ala,

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ

Baginya penjaga di antara kedua tangannya, pada belakangnya, yang menjaga atas perintah Allah (Q.S. Arra’du: 11)

Ibnu Abbas radiyallahu ‘anhu menyatakan bahwa maknanya adalah keberadaan para malaikat yang menjaga mereka atas perintah Allah ta’ala. Mujahid juga mengatakan bahwa malaikat tadi akan menjaganya dalam keadaan tidur atau pun terjaga dari gangguan jin dan manusia.

Hal ini juga sejalan dengan doa pagi dan sore yang senantiasa dibaca oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي وَمَالِي

Ya Allah aku memohon kebaikan di dunia dan akhirat, ya Allah aku memohon kepada-Mu pengampunan dan kebaikan dalam perkara agama, duniaku, keluargaku dan harta bendahku.

Mereka orang-orang yang menjaga Allah dalam perkara kecil, niscaya Allah akan menjaganya dalam perkara yang besar. Salah seorang ulama mengatakan bahwa siapa yang menjaga Allah dengan menghindarkan dirinya dari maksiat yang kecil, maka niscaya Allah akan melindunginya dari perkara yang besar.

Bahkan penjagaan Allah ini tadi tidak hanya sekedar ketika dia masih hidup, tetapi juga akan Allah ta’ala berikan kepada keluarga dan anak keturunannya ketika ia sudah tiada. Dengan kesholihan orang tua, maka Allah akan memberikan kebaikan yang banyak kepada keluarga yang ditinggalkannya.

Hal inilah yang membuat mengapa seorang mukmin lebih percaya kepada Allah ta’ala dibandingkan dengan harta benda yang ia tinggalkan untuk keluarganya.

Dalam surat Al Kahfi dikisahkan bahwa ketika dalam perjalanan dengan nabi Khidir dan nabi Musa ‘alaihimasallam memperbaiki rumah dua orang anak yatim. Dan di bawah rumah keduanya terdapat perhiasan yang banyak untuk dimanfaatkan oleh anak-anaknya.

Allah menggambarkan bahwa nikmat ini dikarenakan kesholehan yang dimiliki oleh ayah kedua anak tadi semasa hidupnya. Allah ta’ala berfirman,

وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا

Dan dulu bapak keduanya adalah seorang yang sholeh (Q.S. Al Kahfi:82)

Umar bin Abdul Aziz rahimahullah mengatakan bahwa tidaklah seorang mukmin meninggal, kecuali Allah akan menjaga anak keturunannya.

Maka benarlah ucapan para salafus sholeh,

مَنِ اتَّقَى اللَّهَ فَقَدْ حَفِظَ نَفْسَهُ

Siapa yang bertakwa pada Allah, sungguh ia telah menjaga dirinya.

Semoga kita semua termasuk di antara orang-orang yang senantiasa menjaga Allah, sehingga Allah pun akan senantiasa menjaga kita baik dalam perkara agama, dunia, harta, dan anak keturunan kita. Aamin.

 

Malang, 25 Agustus 2015

Akhukum Fillah, Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Meraih Sarjana Ilmu Politik (S.IP) dari Ilmu Hubungan Internasional UGM, M.A Political Science, Jamia Millia Islamia, dan M.A International Relations, Annamalai University, India. Menyelesaikan jenjang PhD Political Science dari International Islamic University Malaysia. Belajar agama dari beberapa ustadz ketika sedang studi di Yogyakarta, Malang dan India. Bekerja sebagai Professor di Prodi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang.

Leave a Response