Ujian Allah Kepada Orang-Orang Yang Beriman

Tidak ada satu kesuksesan pun yang bisa diraih dengan mudah. Semua memerlukan perjuangan. Hanya saja sayang banyak orang ketika melihat kesuksesan yang diraih oleh orang lain, mereka hanya membayangkan keindahannya saja.

Jarang ada yang bertanya bagaimana kesulitan yang dihadapi oleh mereka yang mendapatkan kesuksesan tadi. Kebanyakan orang bertanya tentang strategi meraih sukses yang semua orang seharusnya sudah mengetahuinya. Mereka tahu bahwa untuk meraih kesuksesan maka diperlukan kerja keras, kesabaran, dan doa kepada Allah ta’ala.

Namun sebenarnya yang akan jauh lebih berharga daripada itu adalah mengetahui berbagai kesulitan dan rindangan yang mereka dapatkan tadi secara detail. Hal ini minimal akan bisa memberikan spirit terutama ketika kita berada dalam kesulitan.

Jika dalam perkara dunia saja kondisinya seperti ini, maka apalagi dalam perkara urusan akhirat kita. Tidak mungkin dengan mudah kita mengatakan keimanan kita hanya dengan lisan, tanpa terlebih dahulu membuktikan dengan hati dan amalan kita.

Bahkan sudah merupakan sunatullah pada setiap zaman bahwa setiap mereka yang beriman kepada Allah ta’ala akan mendapatkan ujian. Dengan cara ini, maka Allah ta’ala pun akan membedakan antra mereka yang betul-betul beriman atau mereka yang masih tersimpan sifat kemunafikan di dalam dirinya.

Allah ta’ala berfirman,

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لا يُفْتَنُونَ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

Apakah manusia mengira bahwa mereka akan ditinggalkan begitu saja mengatakan kami sudah beriman sementara mereka tidak diuji?, Padahal telah diuji orang-orang yang beriman sebelum mereka sehingga Allah mengetahui siapa mereka yang benar keimanannya dan siapa yang berdusta. (An’Ankabut: 2-3)

Dalam suatu hadits, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لا يزال البلاء بالمؤمن حتى يمشي على الدنيا وليس عليه خطيئة

Tidak akan beranjak ujian bagi seorang mukmin sampai dia meninggalkan dunia dan tidak ada lagi baginya kesalahan.

Maka subhanallah, justru sebenarnya tidak jarang ujian yang diberikan oleh Allah ta’ala justru untuk membersihkan diri kita dari dosa. Untuk membuat derajat kita semakin dekat kepada Allah ta’ala.

Artinya ujian yang didapatkan oleh seorang mukmin adalah bukti kasih sayang Allah ta’ala kepada dirinya. Hal inilah yang menyebabkan kenapa orang-orang beriman menghadapi begitu banyak tantangan.

Adapun apa yang kita hadapi, sebenarnya tidak seberapa dibandingkan dengan ujian yang telah didapatkan oleh orang-orang terdahulu, terutama dari kalangan nabi dan orang-orang sholeh. Jika pun kita mendapatkan tantangan, maka bacalah kisah-kisah para Rasul alaihimussalam tadi, maka niscaya kita akan merasakan apa yang kita alami tidak seberapa.

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إن أشد الناس بلاء الأنبياء ثم الأمثل فالأمثل، يبتلى الرجل على قدر دينه، فإن كان في دينه صلابة شدد عليه وإلا خفف عنه

Sesungguhnya seberat-berat ujian adalah para nabi, kemudian yang semisalnya dan yang semisalnya. Seseorang itu akan diuji sesuai dengan keadaan agamanya. Jika agamanya bagus maka akan diberikan ujian yang berat, jika tidak maka ujiannya ringan.

Hal inilah yang membuat seorang yang beriman memerlukan kesabaran yang berlapis. Kesabaran yang tidak ada batasnya. Ia perlu menghadapi dan menyerahkan semua urusan yang dimilikinya hanya kepada Allah ta’ala.

Allah ta’ala berfirman,

وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الأُمُورِ

Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka yang demikian itu merupakan sebesar-besar urusan. (Q.S.Ali Imran:186)

Semoga kita semua diberikan kesabaran oleh Allah ta’ala untuk bersabar atas setiap ujian yang kita dapatkan dan kita termasuk di antara orang-orang yang beriman. Aamin.

 

Perjalanan Menuju Venesia, 21 Februari 2015 menjelang subuh

Akhukum Fillah, Gonda Yumitro

 

Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Meraih Sarjana Ilmu Politik (S.IP) dari Ilmu Hubungan Internasional UGM, M.A Political Science, Jamia Millia Islamia, dan M.A International Relations, Annamalai University, India. Menyelesaikan jenjang PhD Political Science dari International Islamic University Malaysia. Belajar agama dari beberapa ustadz ketika sedang studi di Yogyakarta, Malang dan India. Bekerja sebagai Professor di Prodi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang.

Leave a Response