Perjalanan ke Italia dan Rapuhnya Peradaban Barat

Sejak 25 Januari sd 25 Februari 2015, kami mendapatkan kesempatan untuk melakukan penelitian di Trento University, Italia. Dalam kegiatan tersebut, selain melakukan kajian tetang politik, kami pun juga mempelajari budaya yang berkembang di tengah masyarakat Italia, khususnya di kota Trento.

Meskipun agak berbeda dengan budaya masyarakat Italia bagian selatan, ada beberapa kejadian menarik yang kami alami selama dua minggu pertama di Italia. Di antaranya adalah berkaitan dengan kedisiplinan, kejujuran, kebersihan, dan budaya antri.

Untuk pergi dari satu tempat ke tempat lainnya, selain bisa berjalan kaki, kami juga biasa menggunakan bus. Dan ternyata jadwal kedatangan bus di kota ini sudah tercatat dengan rapi. Jika bus nomor 3 dijadwalkan datang di pemberhentian bus pada pukul 13.03  misalnya, maka bus tersebut benar-benar datang pada waktunya. Tidak maju atau pun mundur meskipun hanya satu menit.

Dan ketika sudah di dalam bus, para penumpang tidak melakukan pembayaran seperti halnya di Indonesia. Mereka mempunyai kartu yang bisa dipakai untuk sekali jalan atau bulanan. Para penumpang diminta untuk melakukan validasi tiket ke mesin yang telah disediakan.

Bagi yang ketahuan tidak melakukan validasi, maka ia akan diberikan denda sebesar 15 kali harga tiket. Meskipun dalam realitanya sangat jarang dilakukan pengecekan, tetapi dengan jujur para penumpang pun memvalidasi tiket mereka.

Kejadian lainnya juga berkaitan dengan budaya antri di kota yang tertata rapi dan bersih ini. Ketika ingin membeli sesuatu, seperti tiket, atau bahkan sayuran dan buah-buahan di toko, kami pun diminta untuk mengambil nomer antrian. Pembayaran baru bisa dilakukan sesuai nomer antrian dan tidak bisa mendahului orang yang sudah datang terlebih dahulu.

Begitu juga dengan penghormatan warganya di jalan terhadap orang lain, terutama yang dilakukan oleh para pengendara mobil. Ketika ada orang yang akan menyeberang jalan, meskipun bukan di lampu merah, mobil akan berhenti dan memberikan kesempatan kepada para penyeberang jalan terlebih dahulu.

Sekilas, berbagai kejadian di awal kedatangan kami di kota ini pun telah membuat kagum. Seakan beberapa nilai-nilai keislaman telah mereka rebut. Kami pun sempat berfikir, bagaimana kiranya sistem dan budaya seperti ini bisa diterapkan dan dikembangkan di Indonesia.

Namun ketika pelan-pelan mulai mengetahui lebih dalam tentang apa yang sebenarnya terjadi di tengah masyarakat, maka terlihat bagaimana rapuhnya struktur sosial dan nilai moral masyarakat barat.

Berbagai aturan yang mereka miliki tidak lebih dari kontrak sosial untuk urusan fisik dan materi semata. Adapun dalam perkara moralitas, maka mereka mempunyai pemahaman yang berbeda dengan Islam dan meletakkannya lebih pada urusan individu.

Berdasarkan beberapa interview dan diskusi yang kami lakukan dengan para pemuda dan mahasiswa di sini, maka kami melihat bahwa ternyata ada persoalan serius yang menjadi ancaman bagi peradaban barat dan akan membuatnya mengalami kemunduran. Hal ini utamanya berkaitan dengan syahwat, moralitas dan pola hubungan sosial dan ekonomi antara satu dengan lainnya.

Menurut berbagai sumber yang kami wawancarai, masyarakat barat merupakan tipologi kelompok yang sangat rasional dan materialistis. Mereka merencanakan masa depan dengan hitungan matematis, serta tidak percaya pada konsep Tuhan dan keberkahan dalam rezeki.

Saking perencanaan harus dipersiapkan dengan baik, bagi mereka kapan waktu pernikahan dan berapa jumlah anak yang akan dimiliki pun harus diatur. Sekarang ini, terjadi kecenderungan di tengah masyarakat barat dimana wanita mulai menikah ketika sudah memasuki usia 30 tahun ke atas.

Sebelum usia 30, mereka akan sibuk dengan pendidikan dan karir. Perpustakaan akan penuh di mana mereka begitu bersemangat belajar, demikian juga dengan berbagai tempat kerja. Para wanita tadi tidak ingin kalah dengan para laki-laki dalam urusan ini.

Karena penundaan terhadap usia pernikahan tersebut, pergaulan bebas pun meluas dan dianggap sebagai hal biasa. Bagi masyarakat barat, hidup bersama antara laki-laki  dan perempuan sebelum pernikahan bukan suatu aib.

Bahkan beberapa mahasiswa yang kami wawancarai menyampaikan bahwa mereka merencanakan untuk terlebih dahulu tinggal bersama dengan pacarnya sebelum pernikahan. Mereka mengatakan bahwa dating (melakukan seks) adalah sesuatu yang berbeda dengan hidup bersama dalam pernikahan.

Melalui proses ini mereka berpendapat bahwa akan bisa melihat kesesuaian karakter antara satu dengan lainnya. Jika misalnya mengalami kecocokan, mereka akan menikah. Jika pun tidak maka mereka pun akan berpisah begitu saja.

Bahkan ketika sudah menikah sekali pun, beberapa narasumber yang kami wawancarai menyampaikan bahwa hal tersebut tidak menutup kemungkinan untuk melakukan open relationship. Maksudnya, meskipun sudah bersuami, seorang istri masih memungkinkan untuk berhubungan bebas dengan lelaki lain. Demikian juga sebaliknya dengan suami yang masih membuka peluang untuk berhubungan bebas dengan wanita lain.

Masyarakat barat melihat pernikahan tidak lebih pada urusan kepemilikan harta benda jika terjadi perceraian atau pun kematian dari pasangannya. Dengan menikah maka harta yang dimiliki akan dibagi jika bercerai, atau akan diwariskan kepada pasangannya jika salah satu meninggal.

Adapun jika tidak menikah maka harta tersebut akan diambil oleh anak yang dilahirkan dari hubungan mereka. Atau jika tidak punya anak, akan diambil oleh keluarga dari pihak yang tertulis dalam sertifikat kepemilikan harta. Hal inilah yang menguatkan beberapa orang untuk tetap menikah.

Jadi pernikahan mereka bukanlah karena ibadah sebagaimana yang dikenal dalam Islam. Bahkan sekarang ini sebagian besar masyarakat barat tidak lagi percaya dengan agama kecuali sekedar formalitas semata. Bagi mereka Tuhan seakan tidak ada.

Maka di sini terlihat bagaimana gamangnya kehidupan yang mereka jalani. Segala sesuatu hanya berkutat untuk urusan dunia dan kepuasan syahwat semata. Anak terkadang malah dijadikan sebagai beban sehingga mereka hanya ingin punya satu atau dua anak saja.

Bahkan ada penelitian yang menyatakan bahwa dari dua wanita Eropa sekarang hanya satu orang yang mau punya anak. Itu pun jumlahnya hanya satu. Mereka khawatir jika mempunyai banyak anak maka tidak bisa memberikan pendidikan dan fasilitas yang layak untuk anaknya.

Apalagi menurut narasumber yang kami wawancarai, persaingan lapangan pekerjaan di barat sekarang sangat ketat. Dengan rata-rata beban pekerjaan yang berat, gaji yang mereka dapatkan tidak begitu memadai untuk memenuhi biaya hidup yang kian hari semakin meningkat.

Hal ini pula yang akhirnya menuntut istri juga harus bekerja dengan harapan bisa menambah penghasilan. Namun realita yang terjadi ternyata hal tersebut juga belum mencukupi. Justru mereka perlu mengeluarkan lebih banyak uang untuk biaya pendidikan anak, pembantu, dll.

Akhirnya banyak di antara mereka yang terjebak dengan utang. Mereka pun semakin sibuk untuk membiayai hidupnya dan mulai tidak bisa memberikan perhatian penuh kepada anak-anak mereka.

Seorang anak seringkali diperlakukan layaknya seorang cucu oleh kedua orang tua mereka. Tidak ada larangan apapun, melainkan hanya dimanjakan. Apapun yang diinginkan dituruti dan anak-anak tadi pun secara bebas mencari perhatian dari teman-temannya di luar.

Jangan heran jika virginitas bukan merupakan suatu yang penting bagi masyarakat barat. Responden yang kami wawancarai menyampaikan bahwa bagi mereka persoalan hubungan laki-laki dan perempuan seperti ini masuk pada ranah pribadi yang tidak boleh dicampuri oleh orang lain.

Demikianlah perkembangan peradaban barat masa kini. Mereka berada di antara dua keadaan yang sangat berbeda. Menjulang tinggi dalam urusan dunia, tetapi rapuh dalam moralitas, sosial dan agama.

Di tengah kondisi seperti inilah kami melihat ada harapan baru menyeruak dari kelompok Islam. Sebagian kelompok muslim mulai menunjukkan geliatnya. Hal ini pula yang kami lihat di Trento, Italia.

Dua kali jum’at kami sholat di masjid di Islamic Cetre Trento, terasa bagaimana besarnya semangat mereka untuk berislam. Mereka terlihat ceria berkumpul di masjid kecil yang agak tersembunyi. Hal ini menumbuhkan harapan kebangkitan Islam di tengah peradaban barat yang terlihat kuat tetapi rapuh.

Pada jum’at pertama, meskipun sholat baru dimulai pada pukul 12.39,  sejak pukul 11.30 para jama’ah sholat sudah mulai banyak yang datang. Padahal jika di lihat dari jarak tempat para jama’ah dengan masjid, maka Islamic Center ini tergolong jauh. Dari tempat kami saja misalnya paling tidak satu jam perjalanan harus kami alokasikan dengan bus untuk menjangkaunya.

Beberapa dari jama’ah juga terlihat membawa kurma dan diletakkan di dekat pintu masuk masjid untuk dinikmati oleh jama’ah yang menginginkannya. Dengan akrab antara satu dan lainnya saling bercengkrama karena mungkin sudah seminggu tidak berjumpa. Betul-betul terasa erat dan indah persaudaraan dalam Islam.

Yang semakin memberikan harapan besar akan besarnya peluang peradaban Islam mampu menggantikan barat adalah isi dua kali khutbah yang disampaikan oleh khatib. Selain cara penyampaian yang menarik, isi dari khutbah tersebut juga sesuai untuk konteks masa kini, utamanya keberadaan mereka sebagai muslim minoritas di tengah masyarakat Eropa.

Pada jum’at pertama, khotib menyampaikan materi tentang amanah, yang mana beliau memberikan pesan bagaimana setiap langkah dari hidup kita ini adalah amanah. Oleh karena itu, ia berwasiat agar para jama’ah semua menjaga amanahnya terhadap Allah, amanah terhadap Rasulullah, termasuk amanah terhadap keluarga, tetangga, dan terhadap orang kafir sekali pun.

Suatu nasehat yang sangat sesuai di tengah semakin terkikisnya sifat amanah di tengah masyarakat sekarang ini. Dan khotib pun menggaris bawahi bahwa menghindarkan diri dari berbagai kemaksiatan merupakan suatu amanah Allah yang harus betul-betul kita jaga.

Demikian juga pada jum’at kedua, khotib memberikan materi berkaitan dengan tips menghadapi fitnah di akhir zaman. Dengan pembahasan yang update beliau menyampaikan bagaimana beratnya kehidupan yang harus di jalani oleh seorang muslim agar bisa selamat dari fitnah yang sekarang terjadi. Di era ini, khotib menyampaikan bahwa terkadang kita sudah sulit untuk membedakan antara suatu berita yang salah dan benar.

Dan para jama’ah yang rata-rata berasal dari berbagai negara timur tengah, India dan Pakistan itu pun mendengarkan khutbah yang disampaikan dalam bahasa arab tadi dengan khusu’. Setelah sholat pun beberapa pengumuman berkaitan dengan berbagai kegiatan keislaman yang akan diadakan pun disampaikan.

Maka dari keadaan tersebut, muncul perasaan optimisme yang luar biasa bahwa sebenarnya jika umat Islam konsisten dalam ketaatan kepada Allah, dan tidak terpengaruh dengan berbagai budaya negatif yang datang dari barat, insyaAllah Islam akan kembali bisa memimpin dunia, menggantikan beradapan barat yang sudah rapuh. Aamin.

 

Di atas kereta dari Trento ke Verona, 8 Februari 2015

 

Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Pernah belajar di Hubungan Internasional UGM dan Political Science, Jamia Millia Islamia dan International Relations, Annamalai University, India. Belajar agama dari beberapa ustadz ketika sedang studi di Yogyakarta, Malang dan India. Sekarang berprofesi sebagai dosen di prodi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang

1 Comment

Leave a Response